Penggemar anime saat ini semakin banyak, terlebih dengan meningkatnya akses terhadap internet dalam satu dasawarsa terakhir. Salah satu di antaranya adalah cosplay (costume play.)

Cosplay memiliki latar budaya yang berbeda di Barat (Amerika dan Eropa) dan Jepang. Di Amerika, praktik yang kini disebut cosplay populer terlebih dahulu dengan istilah costuming, sementara di Jepang, cosplay muncul sebagai istilah pada 1984 setelah seorang warga Jepang mempraktikkannya, memperhatikan fenomena costuming yang ada di Los Angeles, Amerika Serikat. Dalam perkembangannya, cosplay menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan fandom (basis komunitas) dari suatu produk kreatif (animasi, komik, game, dsb.)

fai4-poster-web

Forum Anime Indonesia mencoba mengeksplorasi secara semi-akademis bagaimana fandom kebudayaan anime di Indonesia muncul dan tumbuh dalam komunitas yang memiliki struktur dan bentuk yang konkrit secara nyata. Dalam acara yang dihadiri oleh pelaku, pengamat, serta akademisi ini, diharapkan pihak-pihak yang berkepentingan dan menaruh minat akan fandom kebudayaan anime di Indonesia bisa menjadikannya sebagai referensi dan pembelajaran sesuai dengan bidangnya.

Dalam diskusi kali ini, akan dibahas mengenai beberapa hal seperti cosplay sebagai sebuah aktivitas, cosplay dan hubungan interpersonal (keluarga, masyarakat), cosplay di Indonesia, tren dalam cosplay (trap, berhijab, original chara), serta fenomena cosplay karakter lokal Indonesia. Tidak ketinggalan pula akan dibahas sejumlah kontroversi dalam media sosial di Indonesia.

Digelar oleh KAORI Nusantara dengan tujuh tahun pengalaman dalam bidang kebudayaan anime dan ekonomi kreatif di Indonesia, Forum Anime Indonesia kali ini diharapkan mampu mempertemukan pihakpihak yang berkompeten dengan para penggemar yang selama ini hanya memendam kegundahan, atau hanya bisa menyuarakan aspirasinya melalui media sosial.

Hamdan Maulana, ketua panitia acara ini melihat cosplay di Indonesia baru sebatas ramai di media sosial.

“Masyarakat kita gampang kena provokasi, contohnya pas kasus Miku (busana seksi – Red) atau malah kebalikannya (cosplay berhijab – Red.) cuma kenapa itu dijadikan perkara, kita mau tahu.”

Kevin W, Dirut KAORI Nusantara, melihat cosplay di Indonesia sudah semakin merakyat, sudah go international, dan menjadi fenomena penting dalam perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia.

“Sekarang sulit menemukan acara jejepangan tanpa cosplay. Seiring jumlahnya yang meningkat, kualitasnya pun meningkat dan cosplayer kita bisa berkompetisi dalam kegiatan skala internasional seperti WCS. Tapi selain cosplay karakter luar, yang makin menarik justru saat karakter lokal kita sudah banyak cosplay-nya. Baik Jakarta Cosplay Parade ataupun re:CON, itu bukti nyata kalau cosplay karakter lokal sekarang sudah mulai dihargai di negeri sendiri.”

Sementara Rafly N, Direktur Pemberitaan KAORI Nusantara, berharap ajang ini bisa jadi sarana baik untuk akademisi, penggemar, maupun pelaku cosplay untuk saling bertatap muka dan berdiskusi soal fenomena cosplay di Indonesia. “Mudah-mudahan diskusinya bermartabat dan tertib,” tuturnya.

Acara diskusi ini akan diselenggarakan pada Sabtu, 27 Februari 2016 dalam perhelatan BIJAC no Tanjouiwai 9 di Binus International, Senayan, Jakarta Selatan. Materi diskusi dan modul dapat diunduh melalui : https://www.kaorinusantara.or.id/fai/