Main game memang sudah lumayan diterima, apalagi dengan adanya potensi bagi sang pemain untuk membawakan uang dengan kompetisi E-sport dalam jaman sekarang ini yang semakin besar. Tapi ada saja yang berpendapat kalau main game hanyalah aktivitas yang sia-sia dan membuang-buang waktu dan tak berguna, tak hanya sekarang tapi juga dari jaman dulu. Orang tua dari flutist Jepang ini juga berpendapat seperti itu.

Flutist atau pemain suling asal Jepang ini adalah user Twitter @magnumtriored yang bernama asli Taku Junichiro. Dan ia baru-baru ini dilirik netizen Jepang atas cerita mengenai game dan ibunya yang ditulisnya melalui tweet.

Taku adalah fans berat dari game Legend of Zelda buatan Nintendo, spesifiknya game Zelda berjudul Yume wo Miru Shima atau Link’s Awakening, yang pertama dirilis untuk konsol Game Boy dua puluhan tahun lalu. Ia sangat fans sampai ia belajar dan berhasil memainkan musik treasure chest game itu dengan suling.

Ia tentu senang atas hal itu, dan ia menunjukkannya kepada ibunya. Tapi respon yang didapat olehnya bukanlah pujian positif, dengan ibunya justru mengatakan “Kamu main game lagi ya? Duh kamu masih buang-buang waktu saja main-main!? Belajar saja sana!!” dan tentu, itu membuat Taku kecil sangat sedih.

Tapi tentu kisahnya tak berakhir disitu. Dengan Taku kemudian mengatakan kalau andaikan saja ia dapat mengatakan kepada dirinya yang masih kecil itu, kalau 26 tahun kemudian saat Link’s Awakening di-remake, dialah yang memainkan nada suling dalam soundtrack game remake itu.

Ya, Taku Junichiro yang sudah dewasa dan menjadi pemain suling profesional ini, kini adalah leader dari grup pemain suling trio bernama Magnum Trio, dan ia dipekerjakan Nintendo untuk memainkan sulingnya untuk versi remake game Link’s Awakening, yang kini telah dirilis untuk Nintendo Switch.

Dan ya, tentu Taku juga sudah punya Nintendo Switch dan sudah membeli dan memainkan game tersebut 😉 omedetou gozaimasu ya Taku Junichiro, rasa passion dan cinta kepada game itu benar-benar tak tersia-siakan.