Siapa bilang Jepang hanya identik dengan teknologi dan kumpulan orang-orang yang gila kerja? Di Prefektur Niigata, bagian utara negeri matahari terbit, kesan pedesaan justru lebih kental terasa. Kawasan hamparan sawah ini telah lama menjadi lumbung padi bagi Jepang. Ribuan hektare sawah menghasilan berton-ton beras. Bahkan menjadi tempat berkreasi bagi para seniman patung jerami dadakan.

Kegiatan bertani di Jepang dianggap dimulai paling cepat sekitar tahun 300 SM. Saat itu, umumnya permukiman terbentuk di sepanjang sisi sungai yang dapat mudah menarik air. Setelah zaman Edo, pembangunan saluran air irigasi semakin maju dan seiring meluasnya area persawahan, terbentuklah suasana pemandangan hamparan sawah yang indah. Di kawasan Shirakawa di Prefektur Gifu, terdapat pedesaan Jepang tempo dulu yang dilestarikan.

Di Jepang, musim panen biasanya tiba saat musim gugur. Dan saat musim panen itulah banyak barang sisa hasil pertanian yang berupa sampah organic dengan jumlah sangat banyak. Namun disisi lain, saat panen merupakan saat yang menyenangkan dari segi ekonomi, maupun sosialnya dimana masyarakat saling membantu untuk bekerja sama disawah atau diladang. Setiap musim panen padi tiba, setiap daerah di belahan dunia ini akan melakukan serangkaian tradisi.

Tradisi yang dilakukan tersebut tidak lain karena sebagai bentuk ucapan syukur atas hasil panen yang baik. Kota Niigata, Jepang Utara, punya cara menarik untuk menyambut musim panen. Mereka mengadakan Wara Art Festival yaitu dengan membangun berbagai patung jerami raksasa untuk dipajang di area ladang.

Wara Art Festival telah diselenggarakan sejak tahun 2008. Kegiatan festival ini merupakan kolaborasi divisi pariwisata Pemerintah Jepang dengan Musashino Art University. Festival tahunan tersebut selalu diadakan setiap tanggal 31 Agustus. Idenya sendiri awalnya tercetus pada 2006, saat itu mahasiswa di Musashino Art University merasa perlu ada cara memanfaatkan sampah jerami dari hasil panen, yaitu dengan membuat karya seni dari jerami. Pada 2008, akhirnya festival tersebut digelar untuk pertama kali.

Festival patung jerami ini cukup unik dibanding festival lain. Dalam festival ini warga menggunakan jerami padi yang tersisa dari panen untuk dijadikan karya seni. Tiap orang harus mengikat satu – persatu jerami padi agar lebih mudah disatukan dan mudah untuk dibentuk. Bisa menghasilkan sebuah mahakarya dari barang yang dianggap tidak berguna adalah keahlian seorang seniman.

Tak hanya seorang seniman saja yang mampu menciptakan sebuah karya seni yang ciamik, namun orang yang memiliki kreativitas tinggi pun bisa membuat sebuah karya yang tak kalah indah dari seorang seniman, karena sebuah karya tak selalu dilihat dari segi keindahaannya, tapi juga dari seberapa besar kreativitas seseorang dalam menciptakan hal yang tak berguna menjadi jauh lebih berguna. Itulah yang membedakan orang kreatif dengan orang yang selalu ingin melakukan sesuatu dengan cara instan.

Jepang, dengan makanan pokok warganya yang berupa nasi, akan membuat petani menanam padi sebanyak mungkin agar mencukupi kebutuhan makanan pokok mereka. Jumlah ini pula yang menyebabkan sampah organic sisa panen semakin banyak. Sampah organic yang mendominasi yaitu jerami. Dahulu, jerami padi memang banyak dimanfaatkan warga untuk memproduksi berbagai barang, seperti tikar dan kasur.

Namun berkembangnya zaman barang-barang yang berbahan jerami tergantikan oleh barang plastik. Maka karena jumlahnya yang  terlalu banyak, maka akan dibakar dan asapnya dibiarkan terbang bebas diudara. Hal ini tentu akan membuat polusi udara meningkat. Melihat hal ini, para mahasiswa serta seniman lokal nantinya akan memanfaatkan jerami-jerami yang dikumpulkan dari para petani.

Kemudian mereka bekerjasama membangun patung-patung yang kerangkanya dari kayu yang kemudian dibaluti jerami untuk mengisi ladang Niigata. Beragam karakter mereka ciptakan, seperti belalang, dinosaurus, gurita, dan masih banyak lainnya. Sehingga, festival ini hadir sebagai upaya untuk memanfaatkan sisa-sisa limbah jerami.

Tahun ini Wara Art Festival telah memasuki tahun ke-10 penyelenggaraan. Patung jerami raksasa yang menghiasi Taman Uwasekigata didominasi dengan berbagai macam jenis hewan seperti dari buaya, singa, kerbau, badak, dan gorila. Uniknya, tahun ini patung binatang buas yang dibuat punya ukuran dua kali lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, tema yang diusung adalah Dinosaurus.

patung jerami

Hadirnya karya unik ini ternyata sukses meningkatkan minat traveler untuk datang ke Kota Niigata lho dan menjadi spot selfie keren favorit para traveler. Buktinya, acara yang diadakan tiap bulan September-Oktober ini selalu dipadati oleh ratusan pengunjung. Para wisatawan diperbolehkan melihat, foto-foto, dan menyentuh langsung patung raksasa yang mereka buat.

Patung-patung jerami ini akan dipajang di Taman Uwasekigata. Jadi, kalau akiba-chan dan akiba-kei pengen melihat secara langsung jangan lupa buat berfoto ya… 😀

Baca Juga: