Jepang merupakan negara yang paling maju se-asia. Tak heran jika para penduduknya memiliki karakter yang begitu bersemangat dalam bekerja. Ini merupakan sesuatu yang positif dan membawa masyarakat Negeri Bunga Sakura ke taraf kehidupan yang lebih baik. Namun ternyata, di balik hal positif itu ada fakta tentang Karoshi yang mengerikan.

Apa itu ‘Karoshi’? Seperti yang pernah dijelaskan dalam artikel sebelumnya, Karoshi adalah istilah yang digunakan untuk menyebut fenomena orang-orang yang berwatak gila-kerja hingga menyebabkan masalah kesehatan bahkan kematian pada dirinya sendiri. Fenomena ini begitu mudah dijumpai seandainya Akiba-chan dan Akiba-kei berlibur ke sana.

Topik mengenai kerja berbuntut kematian di Jepang menjadi bahan perbincangan yang menghangat belakangan ini. Tidak saja di dalam ranah lokal, akan tetapi juga ranah mancanegara. Semuanya menunjukkan perhatian yang besar terhadap fenomena mengerikan itu. Minasan penasaran? Berikut 6 fakta tentang Karoshi yang dikutip dari BBC dan berbagai media massa lainnya. ๐Ÿ˜€

1. Dimulai Pada Tahun 1969

Peristiwa Karoshi dikatakan telah ada sejak lama, yaitu pada sekitar tahun 1969. Mulai dari tahun itu, telah ada Karoshi lainnya dan jumlahnya mulai bertambah hingga sekarang. Ini merupakan sebuah fakta tentang Karoshi yang lumayan membuat publik dunia geger. Bagaimana tidak? Karoshi pertama kali dialami seorang pria muda berusia 29 tahun! Ia telah menikah, bekerja di departemen pengiriman surat kabar terbesar di Jepang, dan mendadak ditemukan meninggal kemudian.

Setelah dicermati, pria tersebut ternyata tewas akibat serangan stroke secara tiba-tiba. Pembuluh darah di kepalanya pecah dan menyebabkan kerusakan otak dalam waktu singkat. The Workers Compensation Bureau of Japanโ€™s Ministry of Labor mendikte bahwa penyebab kematiannya adalah bekerja secara berlebihan sehingga berdampak pada kondisi kesehatan tubuhnya. Agak menyeramkan ya, Minna! Eits, tapi ini masih yang pertama, ada fakta tentang Karoshi yang lebih menyeramkan di bawah. Gulir terus dong!

2. Takut Dipecat

Ada banyak alasan yang membuat para karyawan di Jepang rela bekerja dengan sangat keras, bahkan melebihi batasan yang bisa diberikan oleh tubuhnya. Dan dari sekian banyaknya alasan itu, takut dipecat merupakan alasan yang utama. Mereka tidak mau mengecewakan atasan yang telah menaruh harapan dan kepercayaan dengan hasil pekerjaan yang buruk. Jadinya, para pekerja berusaha seproduktif mungkin.

Sayang seribu sayang, meski terkesan positif, sesuatu yang berlebihan selalu menikam dari belakang. Banyak dari para karyawan ini lupa akan batasan fisik dan psikisnya. Mereka tidak lagi peduli dengan rasa lelah yang bisa berbuntut masalah kesehatan. Lebih parahnya lagi, alih-alih menggapai apa yang diinginkan, mereka justru melakukan sesuatu yang sia-sia. Ujung-ujungnya keinginan bunuh diri pun timbul akibat dari stres yang meningkat.

3. Penyebab Kematian

fakta tentang karoshiMasalah kesehatan apa yang menyebabkan para pekerja ini meninggal dunia? Mungkin Minasan penasaran juga dengan ihwal satu ini, dan jawabannya adalah ‘stroke dan serangan jantung’. Seperti fenomena Karoshi yang pertama kali, banyak kematian para pegawai disebabkan oleh penyakit nomor satu di dunia ini. Dan penyakit kedua yang mengintai orang-orang yang gila-kerja adalah serangan jantung. Semuanya datang tiba-tiba.

Sedikit lebih jauh tentang dua penyakit ini. Ketika seorang terkena stroke, maka pasokan darah yang membawa oksigen ke otak menjadi terputus akibat pecahnya pembuluh darah, sehingga sel-sel otak pun akan segera mati. Sedangkan, serangan jantung adalah kondisi yang terjadi ketika pasokan darah menuju ke jantung menyempit oleh suatu penyebab, sehingga organ-organ vital lain kekurangan oksigen dan kemudian kehilangan fungsi.

Baca juga: 7 Alasan Kenapa Cewek Pettan Harus Bangga dg Gelar Flat Is Justice

4. Jumlah Korban

fakta tentang karoshiData yang disajikan oleh Departemen Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan Jepang di tahun 2015 lalu mengungkapkan fakta tentang Karoshi yang mencengangkan. Jumlah kematian akibat fenomena Karoshi di Jepang dalam 1 tahun terakhir mencapai 1.456 kasus! Angka yang cukup fantastis, bukan? Angka ini mencatatkan rekor tertinggi atas kematian mendadak para pekerja di Jepang dan membuat tenaga kerja dari luar negeri enggan menyentuh negara tersebut.

Fakta tentang Karoshi satu ini juga membeberkan mayoritas yang mengalami kerja berbuntut kematian cukup banyak dialami oleh bidang-bidang tertentu. Para pegawai yang lebih berisiko mengalami Karoshi adalah karyawan teknik, buruh industri, pegawai transportasi, tenaga kesehatan, dan pelayanan sosial yang memang sejak lama kekurangan tenaga kerja. Kalau Minasan memang ingin banget kerja di Jepang tapi takut kena Karoshi, mending hindari jenis pekerjaan di atas.

5. Uang Santunan

fakta tentang karoshiParameter terhadap penduduk yang meninggal karena Karoshi telah ditetapkan pemerintah Jepang. Penduduk yang memiliki anggota keluarga yang mengalami Karoshi bisa meminta uang santunan pada perusahaan tempat orang tersebut bekerja sesuai ketetapan yang ada. Dalam kasus bunuh diri, seseorang bisa mengajukan klaim kompensasi atas anggota keluarganya jika korban minimal pernah lembur 160 jam dalam satu bulan.

Watami, sebuah restoran ternama di Jepang harus memberi uang santutan sebesar 130 juta yen atau sebesar 3,9 miliar rupiah untuk keluarga Mina Mori (26) yang bunuh diri karena terlalu banyak kerja lembur. Mori diketahui meninggal pada Juni 2008, hanya dua bulan setelah bekerja di Watami. Dalam masa kerja yang sesingkat itu, dia bekerja sangat panjang dan hanya memiliki sedikit waktu untuk beristirahat.

6. Aturan Jam Kerja

Banyak penyebab utama Karoshi adalah aturan jam kerja yang sangat panjang. Untuk mengatasi permasalahan mengerikan seperti ini, pemerintah Jepang memberlakukan pembatasan lembur. Biasanya dalam satu bulan hanya boleh lembur sampai maksimal 30 jam saja. Selebihnya itu menjadi hak bagi pekerja untuk menyetujui jam kerja lembur yang lebih banyak dengan bonus upah tentunya atau menolak kesepakatan tersebut.

Selain pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah, perusahaan besar otomotif di Jepang juga mulai memperhatikan kesehatan dari para pegawainya. Mereka menyuruh pekerja pulang setelah pukul tujuh malam atau pulang lebih awal jika memiliki anak kecil di rumah. Strategi ini terbukti menurunkan angka Karoshi, meski tidak signifikan. Akar masalah Karoshi sepertinya ada pada watak penduduk Jepang sendiri yang lebih menyukai bekerja secara berlebih.

Itulah 6 fakta tentang Karoshi, pekerjaan yang berbuntut kematian di Jepang. Jadi, apakah sekarang Minasan masih kepengin bekerja di sana? ๐Ÿ™‚