Jepang memang negara pembuat JAV dan juga animanga dan game Hentai. Produk-produk tersebut lumayan longgar dibiarkan oleh polisi, tapi lain halnya dengan pornografi anak-anak. Contohnya kasus yang terjadi pada Watsuki Nobuhiro mangaka Rurouni Kenshin. Dan sekarang ada lagi yang kena, dengan kabar adanya seorang mantan hentai mangaka yang ditangkap polisi karena diduga posting pornografi anak-anak.

Mangaka tersebut bernama Kurata Ichiro, yang memiliki nama asli Ichikura Taro. Ia adalah seorang hentai mangaka yang telah membuat beberapa karya dengan fokus pada fetish lolicon dan dengan visual yang tak seperti anime umum tapi lebih kearah gambar yang realistis, selain itu dikatakan juga kalau ia yang menulis adult manga berjudul Amahada Shojo.

Dan baru-baru ini dikabarkan kalau Ichikura yang saat ini berumur 51 tahun, ditangkap oleh Kepolisian Prefektur Kyoto di kota Tokyo. Menurut pihak kepolisian, dikatakan kalau Ichikura membuat website yang kontennya berupa pornografi anak-anak.

Ichikura membuat website tersebut dengan memakai open source software gratis TOR. Software dengan nama panjang The Onion Router tersebut adalah program yang dapat membuat penggunanya menjadi anonim dalam internet dengan cara mengarahkan lalu-lintas internet melalui jaringan sukarelawan yang disediakan gratis dan di seluruh dunia.

Software tersebut memang dikatakan suka dipakai untuk hal-hal yang melanggar hukum, dengan selain membagi file bajakan dan menghina kepala negara, pornografi anak-anak juga menjadi tindakan yang bisa dilakukan dengan software itu.

Dan Ichikura diduga juga melakukannya. Dikatakan oleh pihak polisi kalau Ichikura memakai Onion Router untuk membuat website pornografi anak-anak dengan sistem membership sejak bulan Februari 2018, dan saat dicek pada bulan Februari 2019 kemarin website tersebut telah memiliki sampai 2.000 akun yang terdatar disitu.

Ichikura sendiri dikatakan ditemukan saat ia upload gambar porno anak perempuan diantara tanggal 18 Mei sampai 6 Juni, dan pihak polisi menduga kalau ia telah posting sampai 20.000an gambar pornografi anak-anak umur 3-7 tahun di website tersebut, tapi saat ini penyelidikan masih berlanjut. Ichikura sendiri dikatakan telah mengakui perbuatannya.