Setiap orang memiliki masa lalu yang berbeda-beda. Ada yang menyenangkan, ada yang tak begitu menyenangkan. Baik itu orang biasa maupun bintang dan selebriti. Contohnya adalah penyanyi anisong terkenal Nakagawa Shoko, salah satu nama terpopuler dalam dunia anime dan musik Jepang. Akan tetapi meski ia bersinar saat ini, bukan berarti ia dari dulu seperti itu, dan ia baru-baru ini menceritakan masa SMP-nya yang dibuli-buli.

Nakagawa Shoko adalah penyanyi anisong yang terkenal menyanyikan lagu-lagu untuk anime Tengen Toppa Gurren Lagann, tapi selain itu ia juga menyanyikan lagu untuk anime FMA Brotherhood, Beelzebub, dan lain-lain lagi. Selain itu ia kadang jadi seiyuu, seperti Athena di Saint Seiya Omega dan Diana di Sailor Moon Crystal, dan selalu berperan dalam film anime Pokemon.

Aktivitasnya dalam dunia animanga memang hasil passion dirinya. Ia terkenal penyuka game dan animanga sejak ia masih kecil. Tapi ia baru-baru ini menceritakan dalam wawancara dengan website Yomiuri Shinbun kalau hal tersebut juga membuatnya jadi sasaran buli.

Nakagawa mengatakan ia mulai dibuli karena hobi menggambar manga dan game sejak ia masuk SMP perempuan. Ia dibuli oleh para gadis populer yang juga menghinanya sebagai otaku, dan penindasannya semakin memburuk sampai teman ngobrolnya juga jadi menjauhinya.

Penindasannya diketahui saat loker sepatunya dirusak dan sepatunya dihilangkan dan ia mengadu kepada gurunya. Ia diberi sepatu baru tapi pada hari berikutnya Nakagawa diminta untuk membayar ganti sepatu yang hilang itu, membuatnya juga hilang kepecayaan kepada para orang dewasa. Nakagawa juga bahkan sampai berpikiran untuk mau bunuh diri!

Tapi tentu, ia tidak melakukannya. Dan yang membantunya melewati hari-hari menyakitkan itu adalah hobi otakunya, dari baca manga, main game, mendengar musik, sampai websurfing. Nakagawa mengatakan bahkan jika terasa ingin mati, janganlah tak peduli ke hal-hal yang memberi impact padamu. Hal-hal kecil pun dapat membuat hari demi hari terasa lebih baik.

Pengalaman dan pesan Nakagawa tersebut juga dituliskannya dalam buku berjudul Shinun Janeezo! Ijimerareteiru Kimi wa Zettai Warukunai yang baru dirilis 9 Agustus kemarin. Buku tersebut menggabungkan sastra dan manga dengan pesan untuk para remaja korban buli atau yang depresi ingin bunuh diri. Timing dari perilisan buku tersebut juga bertepatan dengan saat angka bunuh diri remaja di Jepang meningkat dengan berakhirnya libur musim panas.