Akiba-chan dan Akiba-kei yang suka cerita cerita jepang, simak empat kisah jadul yang paling terkenal di seantero seluruh dunia berikut ini:

1.Momotaro
Momotaro-s9-640

Momotarō  adalah cerita rakyat Jepang yang mengisahkan anak laki-laki super kuat bernama Momotarō yang pergi membasmi raksasa. Diberi nama Momotarō karena ia dilahirkan dari dalam buah persik (momo), sedangkan “Tarō” adalah nama yang umum bagi laki-laki di Jepang.
Dari nenek, Momotarō mendapat bekal kue kibidango. Di perjalanan, anjing, monyet, dan burung pegar ikut bergabung sebagai pengikut Momotarō karena diberi kue.

Pada zaman dulu kala, hiduplah seorang kakek dan nenek yang tidak dikaruniai anak. Ketika nenek sedang mencuci di sungai, sebutir buah persik yang besar sekali datang dihanyutkan air dari hulu sungai. Buah persik itu dibawanya pulang ke rumah untuk dimakan bersama kakek. Dipotongnya buah persik itu, tapi dari dalamnya keluar seorang anak laki-laki. Anak itu diberi nama Momotarō, dan dibesarkan kakek dan nenek seperti anak sendiri. Momotarō tumbuh sebagai anak yang kuat dan mengutarakan niatnya untuk membasmi raksasa. Pada waktu itu memang di desa sering muncul para raksasa yang menyusahkan orang-orang desa. Momotarō berangkat membasmi raksasa dengan membawa bekal kue kibidango. Di tengah perjalanan menuju pulau raksasa, Momotarō secara berturut-turut bertemu dengan anjing, monyet, dan burung pegar. Setelah menerima kue dari Momotarō, anjing, monyet, dan burung pegar mau menjadi pengikutnya. Di pulau raksasa, Momotarō bertarung melawan raksasa dengan dibantu anjing, monyet, dan burung pegar. Momotarō menang dan pulang membawa harta milik raksasa.

2.Kintaro
Kuniyoshi_100_Poets_Compared_Kaidomaru_detail

Kintaro adalah tokoh cerita rakyat Jepang berupa anak laki-laki bertenaga superkuat. Ia digambarkan sebagai anak laki-laki sehat yang memakai rompi merah bertuliskan aksara kanji  Di tangannya, Kintaro membawa kapak (masakari) yang disandarkan ke bahu. Ia juga kadang-kadang digambarkan sedang menunggang beruang.

Cerita Kintaro dikaitkan dengan perayaan hari anak laki-laki di Jepang. Kintaro dijadikan tema boneka bulan lima (五月人形 gogatsu ningyō) yang dipajang untuk merayakan Hari Anak-anak. Orang tua yang memajang boneka Kintaro berharap anak laki-lakinya tumbuh sehat, kuat, dan berani seperti Kintaro. Selain itu, Kintaro sering digambarkan menunggang ikan koi pada koinobori.

Cerita Kintaro konon berasal dari kisah masa kecil seorang samurai bernama Sakata Kintoki (坂田公時 atau 坂田金時?) dari zaman Heian. Menurut legenda, ibunya adalah seorang Yama-uba (wanita dari gunung, atau yamamba) yang hamil akibat perbuatan dewa petir Raijin. Kisah lain mengatakan, ibunya melahirkan bayi Kintaro dari hasil hubungannya dengan seekor naga merah.

 

3.Tamamo no Mae
220px-Tamamo-no-mae-woodblock

Tamamo-no-Mae  adalah tokoh legendaris dalam mitologi dan cerita rakyat Jepang. Dalam Otogizoshi, kumpulan prosa Jepang ditulis selama periode Muromachi, Tamamo-no-Mae diceritakan sebagai selir Kaisar Konoe yang bertahta dari tahun 1142 hingga 1155. Ia dikatakan sebagai wanita paling cantik dan pintar di Jepang. Tubuh Tamamo-no-Mae secara misterius mengeluarkan wangi harum, dan pakaiannya tidak pernah lusuh atau kotor. Tamamo-no-Mae tidak hanya cantik, tetapi ia berpengetahuan luas dalam berbagai bidang ilmu. Walaupun ia terlihat baru berusia dua puluh tahun, tak ada pertanyaan yang tidak dapat dijawabnya. Setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya dapat ia jawab, mulai dari mengenai musik hingga agama dan astronomi. Kecantikan dan kecerdasannya membuat setiap orang di Istana Kekaisaran kagum dengannya. Kaisar Konoe juga sangat mencintainya.

Kaisar Konoe mencurahkan semua cintanya kepada Tamamo-no-Mae hingga pada suatu waktu, kaisar tiba-tiba jatuh sakit secara misterius. Kaisar berkonsultasi dengan sejumlah besar bhiksu dan peramal untuk mencari penyebab penyakit yang dideritanya. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki jawabannya. Pada akhirnya, seorang peramal bintang bernama Abe no Yasuchika mengatakan kepada kaisar bahwa penyebab penyakitnya adalah Tamamo-no-Mae. Yasuchika menjelaskan bahwa Tamamo-no-Mae adalah seekor kitsune berekor sembilan yang menjelma menjadi wanita muda lagi cantik. Majikannya adalah seorang daimyo jahat yang sengaja membuat kaisar sakit agar dapat merebut tahta kaisar. Setelah mengetahui dirinya sedang diincar, Tamamo-no-Mae menghilang dari istana.

Kaisar memerintahkan panglima perang terkuat waktu itu, Kazusa-no-suke dan Miura-no-suke untuk memburu dan membunuh rubah (kitsune) jadi-jadian itu. Setelah sempat berhasil menghindar dari para pemburu, kitsune muncul dalam mimpi Miura-no-suke dalam wujud Tamamo-no-Mae yang cantik. Kitsune tahu bahwa dirinya akan dibunuh oleh Miura-no-suke pada keesokan harinya, dan memohon agar nyawanya diampuni kali itu. Miura-no-suke menolak.

Pagi keesokan harinya, para pemburu menemukan rubah di Dataran Rendah Nasu. Miura-no-suke memanahnya hingga makhluk ajaib itu terbunuh. Tubuh rubah berubah menjadi Batu Pembunuh (Sessho-seki, ) yang dapat mencabut nyawa siapa pun yang menyentuhnya. Arwah Tamamo-no-Mae berubah wujud menjadi Hoji dan menghantui batu tersebut.

Menurut legenda, batu di Nasu terus dihantui oleh Hoji hingga diusir oleh seorang bhiksu bernama Genno. Hoji mengancam Genno ketika bhiksu itu sedang beristirahat di dekat Batu Pembunuh. Genno melakukan ritual pengusir hantu, dan memohon agar Hoji mau diselamatkan. Hoji akhirnya menyerah dan bersumpah tidak akan menghantui batu itu lagi.

4.Urashima Taro
Taro

Urashima Tarō (浦島太郎) adalah legenda Jepang tentang seorang nelayan bernama Urashima Tarō. Ia diundang ke Istana Laut (Istana Ryūgū) setelah menyelamatkan seekor penyu.

Dalam catatan sejarah Provinsi Tango (Tango no kuni fudoki) terdapat cerita berjudul Urashima no ko tapi menceritakan tentang delapan bidadari yang turun dari langit. Selain itu, kisah Urashima Tarō disebut dalam Nihon Shoki dan Man’yōshū. Cerita yang sekarang dikenal orang adalah versi Otogizōshi asal zaman Muromachi. Seperti lazimnya cerita rakyat, berbagai daerah di Jepang masing-masing memiliki cerita versi sendiri tentang Urashima Tarō.

Kehidupan Urashima Tarō di Istana Laut seperti diceritakan dalam Otogizōshi dianggap tidak cocok untuk anak-anak, sehingga dipotong ketika dijadikan cerita anak. Pada tahun 1910, Kementerian Pendidikan Jepang memasukkan cerita Urashima Tarō ke dalam buku teks resmi bagi murid kelas 2 sekolah dasar, dan terus bertahan dalam buku teks selama 40 tahun.