Fenomena Karoshi adalah sebuah peristiwa di mana para karyawan di Jepang meninggal dikarenakan terlalu banyak bekerja. Ada banyak kasus Karoshi setiap harinya, mulai dari kematian yang disebabkan penyakit akut seperti serangan jantung mendadak dan stroke (pecahnya pembuluh darah di otak), hingga bunuh diri karena stres dengan pekerjaan. Oleh sebab itu, Jepang mulai mengambil tindakan preventif dengan paksa karyawan pulang dari tempat kerja lebih cepat dari biasanya.

Pada kenyataannya fenomena Karoshi di Jepang memang sangatlah menyita perhatian. Bagaimana tidak? Data statistik menunjukkan kematian karyawan Jepang akibat terlalu banyak bekerja mencatat ada sekitar 1.500 kasus yang terjadi setiap tahunnya. Semua peristiwa Karoshi itu selalu berhubungan dengan karyawan yang memilih lembur dan seolah-olah tidak mau pulang dari tempat kerjanya. Untuk menghadapi masalah internal perindustrian yang terbilang ekstrem ini, 7 cara di bawah ini pun dilakukan oleh Jepang.

1. Friday Premium

Friday Premium terdengar seperti sebuah slogan atau sistem kerja dari perusahaan untuk mendorong karyawannya mencapai target. Namun, nyatanya Friday Premium tidaklah seperti itu. Kebijakan ini adalah program dari pemerintah Jepang untuk menanggulangi kasus-kasus kematian karyawan akibat terlalu banyak bekerja. Bagaimana cara program pemerintah tersebut melancarkan aksinya dalam mengurangi fenomena Karoshi? Tentunya dengan cara paksa karyawan pulang lebih cepat di hari Jumat.

Program ini mulai resmi diterapkan di Jepang sejak Februari 2017 kemarin. Dengan melihat jam kerja karyawan di Jepang yang terbilang ‘gila’, Friday Premium diharapkan bisa mengurangi beban stres para karyawan. Pada hari Jumat terakhir di tiap bulan, karyawan akan disuruh pulang oleh perusahaan pada jam 15.00 atau pukul 3 sore. Setelah pulang lebih dini dari tempat kerja, maka karyawan dianjurkan untuk bersenang-senang bersama rekan kerja seperti makan bareng atau minum-minum.

 

2. Dibayar Agar Mau Pulang

Perusahaan mana yang begitu kooperatif dengan program pemerintah? Jawabannya, tentu saja perusahaan di Jepang! Sekarang, di Negeri Bunga Sakura, ada beberapa perusahaan yang rela membayar karyawannya agar mau pulang dari tempat kerjanya. Ini dikenal dengan sebutan ‘tunjangan untuk pulang’. Wih, enak banget kan? Di saat perusahaan di Indonesia lagi sibuk-sibuknya memberlakukan penahanan ijazah asli dan denda penalti jika mengundurkan diri, perusahaan di Jepang malah kasih uang insentif biar karyawannya mau pulang.

Sunny Side Up merupakan salah satu contoh perusahaan yang paksa karyawan pulang dengan cara ini. Perusahaan tersebut memberikan tunjangan untuk pulang sebesar 500 ribu rupiah agar setiap karyawannya mau pulang dari tempat kerja. Uang insentif itu dibayarkan secara tunai pada hari Jumat terakhir di tiap bulan. Tentunya langkah ini diapresiasi oleh pemerintah dan masyarakat sehingga membantu mengurangi fenomena Karoshi di Jepang. Program Friday Premium pun berjalan dengan baik berkat adanya tunjangan untuk pulang dari perusahaan-perusahaan yang loyal.

3. Pemutusan Listrik di Luar Jam Kerja

“Aku akan bekerja lembur hari ini! Semangaaat!” Belum lima menit pegang komputer, tiba-tiba lampunya mati. Demikianlah yang sering terjadi di Jepang, terutama di wilayah kerja perusahaan yang mengandalkan listrik sebagai modal utama melakukan pekerjaan seperti perkantoran atau pabrik produksi. Dengan pemutusan listrik setiap harinya di luar jam kerja, maka perusahaan paksa karyawan pulang dan tidak ada yang bekerja lembur. Banyak perusahaan di Jepang, contohnya Dentsu, memberlakukan aturan pemutusan listrik demi melindungi kesehatan para karyawannya.

Baca juga: Gileee….Perusahaan Jepang ini Beri Tunjangan Waifu Lho!

4. Ambil Cuti atau Kena Sanksi

Karyawan di Jepang terbilang sangat jarang mengambil jatah cutinya. Tercatat kurang dari 50% jatah cuti tahunan karyawan digunakan pada 2013 silam. Nah, demi menekan angka kematian karyawan akibat terlalu banyak bekerja, maka pemerintah punya wacana paksa karyawan pulang dengan mewajibkan mereka mengambil minimal 70% jatah cutinya. Meski terdengar bagus, ternyata penerapannya sulit karena para karyawan terlanjur betah berada di tempat kerja. Perusahaan pun ikut membantu dengan memberikan sanksi pada karyawan yang tidak mau mengambil jatah cutinya.

 

5. Mengusir Karyawan dengan Memutar Lagu Aneh

Ada pula perusahaan di Jepang yang mencoba cara-cara nyeleneh untuk paksa karyawan pulang. Salah satunya adalah Mistui Home Co yang memutar lagu Gonna Fly Now dengan volume keras-keras sebagai tanda jam pulang. Lucunya, lagu ini akan terus diputar berulang-ulang sampai membuat karyawan terganggu dan tidak fokus untuk melanjutkan pekerjaannya, sehingga mau tidak mau agar mendapatkan ketenangan mereka harus pulang ke rumah. Waduh, kok jadi mirip anak TK ya? Alarm pulangnya pakai lagu yang aneh-aneh.

 

6. Pakaian Dalam Beralarm

Wkwkwk… Penulis ngakak mode pesawat terbang pas nulis yang satu ini. Jadi, intinya tuh perusahaan membuat pakaian dalam seperti bra atau celana dalam yang sudah dipasangi alarm. Nah, pakaian dalam ini sudah termasuk seragam wajib kerja. Pas jarum jam menunjukkan waktu pulang kerja, alarm yang sudah diset sebelumnya ini akan berbunyi, sehingga karyawan harus segera ke ruang ganti dan melepas seragam kerjanya untuk bisa mematikan alarm. Mereka yang sudah nanggung melepas seragam kerja pun pastinya akan malas melanjutkan pekerjaan dan kemudian memilih pulang saja. Bagaimana? Nyeleneh tapi genius kan?

 

7. Keluarga Menelepon

Ada beberapa perusahaan yang juga bekerja sama dengan keluarga si karyawan. Mereka menginginkan anggota keluarga yang sangat dekat dengan karyawan mereka agar menelepon dan mengingatkan dengan lembut si karyawan untuk segera pulang. Biasanya istri atau anak tersayang yang akan menelepon jika sang kepala keluarga telat pulang dari tempat kerjanya. Anjuran ini merupakan kerja sama antara perusahaan dan keluarga karyawan, sehingga selain menekan angka peristiwa Karoshi, para karyawan akan lebih memperhatikan jam kerja.

Nah, itulah 7 cara Jepang paksa karyawan pulang. Menurut Minasan mana yang paling unik? Ya, di Jepang memang terkenal akan budaya kerjanya yang kuat. Manajemen perusahaan yang profesional membuat karyawan betah di tempat kerja dan rela lembur untuk menyelesaikan tugasnya. Asal lingkungan kerja nyaman, pekerjaan seberat apa pun bisa dilakukan! Tidak usah deh tahan-tahan ijazah asli atau dikenai denda penalti kalau mengundurkan diri. Itu baru namanya profesional! 😉