Hai, Minna-san. Kali ini saya akan membawa topik yang sedikit berbeda dari biasanya. Kalau sebelumnya ada banyak artikel tentang berita rilis anime terbaru, seputar kehidupan di Jepang, atau yang lain, pada kesempatan ini saya akan mengulas soal tata cara mengatasi art block. 🙂 Kalian yang berkontribusi di bidang seni pastinya sering mengalami hal tersebut bukan? Tiba-tiba saja menjadi malas untuk menulis, menggambar, atau mengerjakan lain. Oleh karenanya, silahkan lanjut gulir mos atau layar ponsel kalian untuk mengetahui tata cara mengatasi art block, saya akan berbagi sedikit tips untuk Minna-san.

Mula-mula kita harus tahu dahulu apa itu Art Block. Art Block terdiri dari dua kata, Art dan Block. Art dalam bahasa Indonesia berarti “Seni”, dan Block berarti “Rintangan”. Jika digabungkan kedua kata tersebut dapat bermakna “Rintangan Dalam Berseni”.

Adakalanya berseni itu mendapat sebuah rintangan bukan? Entah itu arsitek, komikus, penulis, bahkan sampai aktor-aktris sebuah pementasan drama, seluruhnya tercakup dalam lingkaran “Berseni”. Dan yang namanya berseni begitu erat hubungannya dengan perasaan.

Seperti adik-kakak, seni dan perasaan berkesinambungan. Tidak dapat dipisahkan dengan mudah, satu sama lain harus ada untuk mencipta karya yang terbaik. Lalu, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan perasaan? Misalnya galau karena mikirin pacar, hehehe… ini cuma contoh lho, bukan bermaksud menyinggung pembaca. *ditabok* Atau yang lagi sedih, marah, kecewa, dan sebagainya, pokoknya yang berujung menciptakan rasa malas dalam diri kita, malas untuk berkarya.

Nah, saat perasaan atau mood kita itu sedang jelek, umumnya seni yang kita punyai akan ikutan jelek juga, amburadul, berantakan, tidak puguh arah. Maka terhambat pula produktifitas yang kita miliki, ide-ide cemerlang yang seharusnya dapat tercurahkan dengan sempurna malah mandek di tengah-tengah, membuat pusing kepala.

So, cara yang terbaik adalah membangun perasaan atau mood kita kembali pada keadaan awal. Di mana ia belum hancur karena suatu kejadian tidak menyenangkan, agar kelak ide-ide yang kita punya tidak lenyap bersama embusan angin atau justru kita mendapatkan ide yang tadinya belum kita dapat. Tapi, bagaimana caranya?

 

Mendengarkan Musik

Mendengarka  Musik

Author Akiba Nation atau pembaca semua pastinya pernah merasakan sensasi tersendiri ketika mendengarkan musik dalam keadaan galau. Menikmati alunan tuts piano melankolis yang menyentuh, dawai dari senar-senar gitar yang menenangkan, atau gesekan pada biola yang sungguh indah, membuat suasana hati membaik. Seperti ponsel lowbat yang dicharge, seiring dengan aliran listrik yang mengalir, baterai ponsel pun menjadi penuh seperti sedia kala.

Begitu pula dengan para seniman seperti kita. Musik dapat membantu membangun perasaan yang lowbat menjadi penuh kembali. Musik bisa melancarkan ide-ide dan merelaksasi otot-otot kepala yang tegang. Musik mampu membuat kita menjadi semangat untuk berseni lagi.

Saya sendiri bahkan sering kali mendengarkan musik jika sedang bad mood untuk menulis. Biasanya saya memilih jenis musik yang lembut jika hendak menulis bagian dari cerpen atau novel yang romantis, genre sedih untuk chapter melankolis, happy untuk plot lawak, dan metal kalau butuh adegan aksi serta menantang.

Hebatnya, musik memang sanggup menata perasaan saya sebelum mendansakan jari-jemari di atas keyboard. Cukup hanya mendengar serta meresapi lagu yang dipilih selama beberapa menit, efeknya dari pagi sampai tengah malam, menghasilkan banyak untaian kata. Hebat bukan?

 

Jalan-jalan

Jalan-jalan

Nah, yang kedua ini mungkin sedikit terdengar menguras waktu dan kanton Tapi tidak kok, kalau kalian jalan-jalannya bukan di eropa, melainkan di sekitaran rumah sendiri. Lazimnya saya akan melakukan kegiatan jalan-jalan ini kalau kepala sudah mulai berat serta mengantuk saat menulis, dengan sedikit usaha saya akan berusaha mencapai pasir pantai terdekat. Karena Karawang adalah daerah dengan wisata laut lumayan banyak, maka saya tidak kesusahan untuk merefreshing pikiran saya.

Hanya butuh 10-15 menit saja, saya pulang bersama pikiran yang bersih kinclong tanpa beban dan siap bertempur dengan kata-kata kembali. Atau sering juga berlama-lama di sana, menuntaskan cerita ditemani langit senja yang indah.

Tapi, kalau kalian tidak berdomisili di Karawang atau kota lain yang tidak banyak wisata pantainya, kalian bisa mengitari sekitaran rumah dengan jalan kaki santai. Melihat-lihat apapun yang ada, tapi bukan kamar mandi orang yang dilihat lho ya. Hihihi…

 

Nonton Potongan Film atau Baca Sedikit Bagian Buku

Menonton Potongan Film dan...

Ini nih yang paling mujarab! Mujarab bikin ketagihan dan penasaran lalu menuntaskan sampai habis film atau buku yang ada. Kakakakak~ *ketawa ceritanya*, saya bahkan juga pernah begitu kok, kalian tidak usah jaim dengan bilang “nggak” di komentar.

Pada saat itu saya sedang bad mood menulis, tapi ingin mencoba cara baru untuk mengobati rasa bad mood tersebut. Akhirnya, setelah telusur di internet, saya menemukan bahwa menonton trailer dari film atau baca sinopsis buku itu dapat menyembuhkan kokoro artist yang lelah. Dan tentu saja, seperti kejatuhan durian tanpa duri, saya langsung mencoba saran tersebut.

Saya mengetikan alamat streaming video palinh populer di browser, lalu menonton salah satu trailer dari film yang tengah ramai dibicarakan berjudul “Kolam Mampus” (nama film disamarkan karena saya tidak dibayar untuk promosi). Hebatnya, bukan lancar menulis, yang ada pada saat itu pula saya mencari-cari alamat download film full versinya, lantas berakhir dengan mencak-cak tidak jelas karena telah membuang waktu berjam-jam lamanya tapi tidak ketemu juga. Saya pun menangis kemudian.

Oke, mungkin cerita di atas itu bisa dibilang sekadar hasil karangan imajinasi saya demi membuat pembaca tidak bosan. Karena aslinya yang diajurkan itu bukan trailer atau sinopsis baru, tapi potongan dari film atau buku. Kalian bisa membaca beberapa halaman novel atau nonton bagian seru dari film yang sebelumnya sudah pernah kalian baca dan tonton. Dengan begitu, fokus diri kalian akan meningkat tanpa membuat penasaran, berefek mencari-cari alamat download film full versinya. Kalau untuk komikus bisa membuka-buka kumpulan fanart, dan artist lain bisa mencari bahan yang berhubungan dengan bidang yang digeluti. Cmiww~

 

Mengingat Kembali Tujuan Berseni

Mengingat Kembali Tujuan

Saran terakhir ini adalah saran yang paling simpel di antara saran-saran di atas. Selain mudah dilakukan dan tanpa memakan waktu, mengingat kembali tujuan kita berseni menciptakan semangat yang luar biasa.

Tak ubahnya memancing ikan dengan umpan, mengingat kembali tujuan kita berkecimpung di dunia seni itu bisa menggaet si ikan ‘Berseni’ dengan mudah. Oleh daripadanya, hal yang sebelumnya tidak dapat dicapai, hanya berada dalam khayalan benak, dengan ajaib tercapai. Orang-orang akan mengenal kita, mencap sebagai salah satu dari yang berhasil, dan mimpi-mimpi di siang bolong pun mampu direalisasikan.

Saya sudah coba cara ini, dan puji syukur, happy ending. 🙂

Oke, untuk kesempatan ini sampai di sini saja dulu ya. 😀 Mungkin lain kali akan saya tulis lagi tentang cara-cara mengatasi Art Block lain yang saya ketahui dan telah dicoba sebelumnya. Selalu pantengin Akiba Nation! 😉

SHARE
Previous articleTak Ada Habisnya, Kali Ini “Masou Gakuen HxH” Menggoda Lewat Visual Modus Malam Dalam Situs Resminya
Next articleSeiyuu Azusa Tadokoro Siapkan Album Baru Berjudul “It’s my CUE.”
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.