Negara Jepang terkenal memiliki berbagai cafe-cafe dengan konsep yang menarik dan jarang ditemukan di negara lain. Contohnya yang sudah lumayan banyak dikenal dan diketahui diluar negara itu adalah maid cafe dan cafe kucing, tapi ada lagi cafe-cafe lain dengan konsep unik lainnya. Dan bicara soal cafe menarik di negara Jepang, bagi para gamer dan apalagi yang fans Nintendo, ada cafe mantap dengan nama 84.

Yup, namanya sederhana, hanya angka 84. Nama yang diberikan pendiri cafe itu, seorang mantan pegawai Nintendo bernama Hashimoto Toru, karena memiliki 3 makna. Pertama itu adalah Goroawase nama keluarganya, Ha = 8 dan Shi = 4. Kedua adalah tahun ia bergabung pada perusahaan Nintendo. Dan ketiga adalah level terakhir game Super Mario Bros.

Cafe tersebut sebenarnya pertama dibuka Hashimoto sebagai restoran pada tahun 2015 untuk tempat nongkrong teman-temannya dalam industri game. Menunya sederhana seperti beer dan onigiri buatan tangan atau ramen Kyoto, dan pengunjung bisa mengobrol soal industri gaming atau bersenang-senang main board game.

Salah satu teman Hashimoto dan juga reguler tempat itu adalah Morimoto Shigeki, salah satu nama dalam game Pokemon, game yang pembuatannya juga melibatkan Hashimoto. Ia mengatakan 84 adalah tempat favoritnya untuk menenangkan diri, dan kadang juga kesitu bersama anaknya main kartu Pokemon, dan tanda tangannya menghiasi dinding restoran itu.

Tapi tak hanya itu, ada juga gambar Link yang dibuat Aonuma Eiji dan gambar Mario yang dibuat Miyamoto Shigeru. Dan yang seru lagi adalah Hashimoto juga membawa sebagian kecil koleksi barang Nintendo langka untuk dipajang disitu.

Akan tetapi sayangnya restoran 84 perlu ditutup, karena alasan yang tentu bisa ditebak yang pertama meleduk tahun 2020 lalu, coronavirus. Tapi bagaikan dapat nyawa kedua, restoran itu kini dibuka lagi sebagai cafe yang dapat dikunjungi masyarakat umum. Kalau bisa ya, karena yang menarik dari cafe 84 adalah lokasinya dirahasiakan.

Hashimoto baru akan memberi alamatnya jika pengunjung booking tempat. Hal itu berasal dari tradisi dimana saat berupa restoran, Hashimoto juga tidak memberi alamat tapi sebuah puzzle yang memberi petunjuk alamatnya, membuat menemukan tempat itu sendiri bagaikan sebuah game.