Kimetsu no Yaiba menjadi salah satu seri animanga tersukses saat ini sampai jadi sebuah fenomena. Tak heran kalau lagu anime tersebut, yang berjudul Gurenge yang dinyanyikan oleh LiSA, juga ikutan meleduk popularitasnya. Tapi seberapa sukseskah lagu tersebut dari segi uang? Nah komposer dari lagu tersebut baru-baru ini bagi-bagi info yang dapat diduga tapi tetap mengejutkan kalau hasil royalti lagi itu mencapai besar ratusan juta Yen.

Kimetsu no Yaiba berawal sebagai manga karya Gotouge Koyoharu yang diserialisasikan dalam majalah manga Shonen JUMP dan telah tamat pada bulan Mei 2020 lalu. Manga tersebut dapat adaptasi anime yang dianimasikan oleh studio ufotable yang tayang tahun 2019, dan dengan movie sequel yang dirilis tahun 2020, dan dengan season baru yang akan tayang tahun ini.

Salah satu yang ikonik dari anime itu, selain animasi luar biasa studio ufotable, adalah lagu Gurenge yang jadi opening anime tersebut. Lagu itu sangat populer mengikuti meleduknya popularitas anime Kimetsu no Yaiba, dan saking populernya sampai versi remix genre Ska lagu tersebut dipakai sebagai lagu penutup dari event Olimpiade Tokyo beberapa minggu lalu.

Dan sekalian balik pada topik utama, baru-baru ini Kusano Kayoko sang komposer lagu tersebut, diundang dalam acara program TV Downtown DX pada channel Nihon TV. Disitu ia menjelaskan keuntungan yang didapatnya dari royalti lagu tersebut.

Dikatakan kalau jumlahnya mencapai lebih dari 250 juta Yen. Jika jumlahnya itu diRupiahkan, itu berarti keuntungannya bisa mencapai 33 milyar! Royalti itu didapat dari berbagai format lagu tersebut, tapi yang paling besar adalah dari karaoke.

Lagu itu jadi lagu karaoke yang paling dinyanyikan pada tahun 2020, dan sang komposer dapat 3 yen setiap kali lagi itu dipilih di karaoke. Angka yang luar biasa, dengan presenter acara itu mengatakan kalau seluruh populasi negara Jepang nyanyi karaoke Gurenge sekali, jumlahnya hanya mencapai kira-kira 100 juta Yen.

Yang hebatnya lagi adalah sang komposer mengatakan sebenarnya angka tersebut bisa lebih besar lagi, sampai bisa lima kalinya, andaikan saja tidak terjadinya masalah yang mendorong orang-orang untuk jangan keluar rumah sejak 2020 sampai sekarang, alias coronavirus.