Marhaban Ya Ramadhan, Alhamdulillah tahun ini kita masih dipertemukan dengan bulan Ramadhan yang sangat mulia. Di minggu-minggu pertama ini sudah banyak sekali kita saksikan sejumlah tradisi unik dalam menyabut bulan yang penuh berkah ini. Tak hanya dari dalam negeri, di seluruh dunia pun semarak dalam menyambut bulan suci ini. Mulai dari acara yang biasa dan sederhana hingga festival-festival yang meriah dan megah. Bagaimana tidak? Bumi ini dihuni oleh mayoritas kaum muslim.

Tak terkecuali Jepang, sebelum kita membahas soal puasa, perlu kalian ketahui nih sahabat Akiba, Agama Islam diketahui untuk pertama kali oleh penduduk Jepang pada tahun 1877 sebagai sebagian pemikiran agama barat dan pada sekitar tahun itu, kehidupan Nabi Muhammad diterjemahkan dalam Bahasa Jepang. Ini membantu agama Islam menempatkan diri dalam pemikiran intelek orang Jepang, tapi hanya sebagai satu pengetahuan dan pemikiran. Lagi satu hubungan yang penting dibuat pada tahun 1890 ketika Turki Usmaniyah mengirim utusan yang menumpang sebuah kapal yang dinamakan “Ertugrul” ke Jepang untuk tujuan menjalin hubungan diplomatik antara kedua negara serta untuk saling memperkenalkan orang Muslim dan orang Jepang. Kapal itu yang membawa 609 orang penumpang dalam pelayaran pulang ke negara mereka tenggelam dengan 540 penumpang tewas.

Kapal Ertugrul
Kapal Ertugrul

Dua orang Jepang Muslim pertama yang diketahui ialah Shotaro dan diberi nama Abdul Halim Noda (ada yang menyebutnya Abdul Khalil) yang diyakini memeluk Islam pada tahun 1909, serta Bumpachiro Ariga yang pada masa yang lebih kurang sama telah pergi ke India untuk berdagang dan kemudian memeluk Islam di bawah pengaruh orang-orang Muslim di sana serta mengambil nama Ahmad Ariga. Bagaimanapun, kajian-kajian ini telah membuktikan bahwa seorang Jepang yang dikenali sebagai Torajiro Yamada mungkin merupakan orang Jepang Muslim yang pertama ketika ia melawat negara Turki disebabkan turut berduka cita dengan korban tewas dalam kecelakaan maut Ertugrul. Dia mengambil nama Abdul Khalil dan mungkin pergi ke Mekah untuk naik haji.

Shotaro-Abdul Halim Noda
Shotaro-Abdul Halim Noda

Bagaimana pun, kehidupan komunitas Muslim yang benar tidak bermula sehingga beratus-ratus pelarian Muslim Turki, Uzbekistan, Tajikistan, Kirghizstan, Kazakhstan dan Tatar Turki yang lain dari Asia Tengah dan Rusia, pengaruh Revolusi Bolshevik semasa Perang Dunia I. Orang-orang Muslim ini yang diberikan perlindungan di Jepang menetap di beberapa pelabuhan utama di sekitar Jepang dan mendirikan komunitas-komunitas Islam. Segelintir orang Jepang memeluk Islam melalui hubungan mereka dengan orang-orang Muslim ini.

masjid-kobe
Masjid Kobe – Jepang

Dengan pembentukan komunitas-komunitas Muslim ini, beberapa buah masjid telah didirikan. Masjid yang paling penting di antaranya ialah Masjid Kobe yang didirikan pada tahun 1935, dan Masjid Tokyo yang didirikan pada tahun 1938. Bagaimanapun juga, orang Jepang Muslim tidak mengambil bagian dalam pengelolaan masjid-masjid ini dan tidak terdapat orang Jepang yang menjadi imam, dengan pengecualian Syaikh Ibrahim Sawada, imam pada Ahlulbayt Islamic Centre di Tokyo.

Kembali ke Ramadhan, puasa. Di Jepang yang agama Islam merupakan minoritas suasana Ramadhan hampir tidak terasa perbedaan nya. Karena memang mushola dan masjid-masjid masih jarang disini, bagi seorang perantau saat Ramadhan ini adalah salah satu saat-saat yang membahagiakan sekaligus menyedihkan. Bahagia karena masih di beri kesempatan menikmati Ramadhan di Jepang dan juga sedih karena tidak bisa menjalankannya bersama keluarga di rumah. (kira-kira seperti itu yang dirasakan oleh mereka yang merantau di sana). 

Islamic-Center-Japan
Islamic-Center-Japan

Dalam menyambut datangnya bulan puasa, umat Muslim Jepang akan saling berbagi kebahagiaan dengan saudaranya sesama Muslim. Islamic Centre Jepang misalnya, telah membentuk semacam panitia Ramadhan yang bertugas menyusun kegiatan selama bulan puasa, mulai dari dialog keagamaan, majelis taklim, shalat tarawih berjamaah, penerbitan buku-buku keislaman dan segala hal yang terkait dengan pelaksanaan ibadah puasa. Panitia juga menerbitkan jadwal puasa dan mendistribusikannya ke rumah-rumah keluarga Muslim maupun ke Masjid-Masjid. Jadwal puasa ini juga dibagikan ke restoran-restoran halal di seantero Jepang. Panitia ini mulai bekerja ketika telah muncul hilal dan berakhir pada saat Idul Fitri. Jika tidak nampak hilal tanda awal puasa dimulai, maka panitia mengikuti ketetapan hilal Malaysia, negara Muslim terdekat.

Diluar daripada itu semua ada satu hal yang tidak biasa di sana jika dibandingkan dengan di sini, iyaa di sini, di Indonesia. Jika di Indonesia waktu berpuasa mulai dari subuh hingga berbuka/Maghrib hanya sekitar 13 Jam, dan saat ini musim di Indonesia masih memasuki musim hujan dimana kita masih merasakan hawa sejuk di siang hingga sore hari, namun sangat bertolak belakang dengan kondisi di Jepang.

Buka puasa-in-japan
Momen buka puasa di Jepang

Saat bulan Ramadhan ini adalah bertepatan dengan musim panas yang memang memiliki siang hari yang sangat panjang. Begitu pula puasa yang di jalani bagi para Muslim di Jepang pada tahun 2016 ini, rata rata puasa selama bulan Ramadhan ini adalah sekitar 16 – 17 jam dengan Sahur sekitar jam 2 pagi dan buka sekitar jam 7 malam. Jika kalian tidak percaya jadwal pelaksanaan puasa Ramadhan di Jepang tahun ini bisa di lihat di bawah ini.

2016-06-06_17.40.16[1]
Jadwal puasa 2016 – Jepang
Walaupun memiliki jam puasa yang lebih panjang namun itu tidak menghalangi para Muslim di Jepang untuk menjalankan ibadah Ramadhan ini dengan baik, justru karena itu lah ibadah ini menjadi semakin melatih kesabaran dan semoga amal merke kaum muslim yang beribadah di sana di terima di oleh Allah SWT.

Selain selang waktu dari subuh hingga maghrib yang cukup lama. Suhu saat musim panas di Jepang juga tak dapat di remehkan loh. Indonesia memang sangat panas dengan suhu sekitar 30 derajat setiap hari nya, namun jangan salah, di Jepang saat musim panas, panas nya bisa melebihi panas di Indonesia. Sebenarnya suhu panas nya tidak terlalu jauh berbeda dengan Indonesia namun di Jepang ini sedikit terdapat angin sehingga panas nya seperti ” Di Ungkep “. Berbeda dengan Indonesia yang masih banyak angin di mana mana sehingga hawa panas akan sedikit hilang jika ada angin yang melewati kita.

Bagi para umat muslim di sana, untuk ibadah puasa ini tak jarang juga menimbulkan kritik-kritik dan pertanyaan yang sebenernya wajar-wajar saja dilontarkan oleh kaum pemeluk agama mayoritas di Jepang. Untuk apa sih Puasa? siang-siang kok gak boleh makan, Agama yang aneh. Tapiiii, mereka tetap menghormati kaum muslim yang sedang beribada di sana. entah itu saat sholat maupun berpuasa.

Itulah sedikit gambaran tentang suasana bulan Ramadhan di negeri sakura Jepang. Bagi kalian yang hingga saat ini masih malas-malasan untuk menjalankan puasa, cobalah bercermin dari mereka. Meskipun berpuasa 16-17 Jam dalam keadaan panas seperti itu saja mereka masih bisa. Kenapa kita yang hanya 13 Jam dan suhu yang sejuk malah enggan dan bermalas-malasan? Sooo, Akiba-Kei dan Akiba-Chan, yang semangat dan yang penuh ya puasanya. Semoga bermanfaat, Salam.

  • Syarief Ahmad Jauhar

    wow luar biasa