Negara Jepang memang tiada habisnya untuk diulas. Entah soal kebudayaan, adat istiadat setempat, fashion & style, teknologi, kuliner, sampai ke destinasi wisata seolah tidak pernah habis untuk kita tuliskan. Semua hal tentang negara yang terletak di Benua Asia itu sangat menyedot perhatian publik! Termasuk salah satunya urusan makan. Bagi masyarakat Negeri Bunga Sakura sendiri, ada yang namanya aturan makan orang Jepang. Aturan itu sarat akan budaya.

Berikut disajikan apa saja yang dimaksud dengan aturan makan orang Jepang. Check it out, Minna-san!

1. Oshibori

1. Oshibori
Jangan lupa dipakai sebelum makan ya, Minna-san!

Handuk yang disediakan untuk mengelap dan membersihkan kekotoran yang menempel di tangan disebut Oshibori. Biasanya, Oshibori digunakan sebelum menyantap makanan. Dipraktikkan sebagai wujud kedisplinan dalam menjaga kebersihan serta kesehatan. Orang-orang di Negeri Matahari Terbit sangat disiplin dalam menjaga kebersihan.

Aturan makan orang Jepang satu ini terkatakan apik oleh negara lain, tidak terkecuali oleh Indonesia. Di Nusantara kita sendiri juga ada budaya semacam Oshibori lho, Minna-san. Tetapi bukan menggunakan handuk, melainkan mangkuk berisi air. Mangkuk berisi air tersebut biasanya diisi perasaan jeruk lemon atau nipis. Dimaksudkan agar bau amis setelah makan ikan, kepiting, atau udang hilang. Tidak tercium lagi baunya.

Oh iya, Oshibori hanya digunakan untuk mencuci bagian tangan. Dan tidak baik bila Akiba-chan atau Akiba-kei sekalian menggunakan Oshibori untuk membersihkan anggota badan lainnya. Semisal, telapak kaki. Karena itu tidak sopan. Masa buat tangan malah dipakai untuk kaki?

Setelah Oshibori digunakan, Minna-san harus lipat kembali dan simpan di tempat semula.

2. Duduk

2. Duduk ala Jepang
Duduk di lantai membuat hidangan terasa lebih nikmat.

Kini, di Jepang mungkin sudah banyak restoran-restoran yang menggunakan penyajian ala Barat. Yaitu menggunakan kursi dan meja dalam menyantap makanan. Namun, perlu diketahui bahwa untuk beberapa acara resmi, mereka tetap menjaga tradisi saat makan ala negara mereka sendiri.

Umumnya, dalam aturan makan orang Jepang, akan disediakan meja yang berkaki sangat pendek. Sehingga ketika makan, mereka akan duduk bersimpuh menghadap meja kecil tersebut. Tidak usah khawatir akan kesemutan, karena disediakan bantal kecil untuk menahan tulang bawah bergesekan dengan lantai yang keras. Selain itu, lantainya akan dilapisi dengan Tatami, yaitu sejenis tikar gulung tradisional yang dibuat dari jerami.

Konon masyarakat di Indonesia juga menyerap budaya ini ketika masa penjajahan dahulu. Yaitu makan dengan duduk di lantai.

3. Itadakimasu

3. Itadakimasu
Ayo, semuanya! Serempak bilang “Itadakimasu!”

Satu ini tidak terlewatkan dalam aturan makan orang Jepang. Karena sebelum menyantap makanan, diwajibkan mengucapkan kalimat “Itadakimasu”. Itadakimasu dalam bahasa Indonesia kurang-lebih artinya sama dengan “Selamat Makan”.

Tetapi hei, ada satu lagi yang tidak boleh terlewat. Orang Jepang biasanya akan memuji makanan yang telah disediakan oleh tuan rumah. Itu dilakukan sebagai wujud ramah-tamah sekaligus ungkapan terima kasih.

Ketika sedang makan, ada beberapa hal yang harus Minna-san perhatikan juga. Contohnya, jangan membicarakan hal-hal jorok seperti tentang kotoran, dan jangan memainkan sumpit.

Setelah selesai makan, etikanya orang Jepang akan mengatakan “Gochisousama” sebagai tanda terima kasih pada orang yang menyediakan makanan.

Yang suka baper harap baca: How Sweet, Berikut 4 Kebiasaan Laki-laki Jepang yang Sangat Romantis!

4. Ohashi

4. Ohashi
Sumpit itu buat makan, enggak boleh dimainin. Kan jadinya patah tuh.

Ohashi adalah sebutan untuk cara penggunaan sumpit di Jepang. Cara menggunakan sumpit juga harus diperhatikan karena bila salah akan membuat orang di sekitar kita jadi sensitif. Mungkin juga sensitif karena memang sedang datang bulan.

Sebaiknya, Minna-san belajar dahulu cara menggunakan sumpit sebelum makan di Jepang. Hal lain yang harus diperhatikan adalah jangan mulai makan dengan memegang sumpit terlebih dahulu, harap memulainya dengan memegang mangkuk. Setelah mangkuk dipegang oleh tangan kiri, baru bisa mulai dengan mengambil sumpit oleh tangan kanan.

Setelah makanan habis, sumpit bisa diletakan di samping mangkuk seperti semula. Begitu. Agak ribet ya? Menurutku sih masih ribetan bikin doi peka sama kode yang kukasih.

5. Mangkuk

5. Mangkuk
Di Indonesia, mangkuk paling legendaris itu yang gambarnya ayam jago.

Di Jepang mangkuk digunakan sebagai tempat untuk nasi atau sup. Rata-rata nasi di sana disajikan dengan cara dikepal-kepal hingga bulat dan dilapisi rumput laut yang kita kenal dengan sebutan onigiri. Hal ini sudah umum walau pembuatannya lumayan memakan waktu.

Namun untuk nasi yang tidak dibentuk onigiri, Minna-san bisa menggunakan mangkuk untuk tempat nasinya. Selain itu, seperti yang pernah dikatakan sebelumnya, penggunaan mangkuk pun diharuskan menggunakan tangan kiri dan sumpit dipegang dengan tangan kanan. Itulah aturan makan orang Jepang yang harus kita patuhi sebagai pengunjung di sana. Lalu bagaimana dengan orang yang kidal?

Di Indonesia sendiri, orang kidal dibiasakan memakan dengan menggunakan tangan kanan sedari kecil. Sehingga ketika dewasa, untuk kegiatan makan orang kidal terbiasa tidak memakai tangan kiri mereka. Sedangkan di Jepang, hal ini sempat menjadi masalah yang lumayan rumit waktu dahulu. Orang-orang kidal dari luar Jepang yang masih terbiasa memakai tangan kiri ketika makan adalah pemicunya.

Akhirnya, lahirlah restorasi Meiji. Sehingga orang-orang ‘left hander’ yang masuk ke Jepang bisa leluasa memegang sumpit memakai tangan mana pun. Asal jangan menggunakan kaki saja ya, bisa-bisa dilempar shuriken nanti.

6. Kanpai

6. Kanpai
Kanpaiii!!

Kanpai adalah istilah ‘bersulang’ yang digunakan oleh orang-orang Jepang. Mereka akan teriak “Kanpai!” sambil mengadukan gelas minuman mereka. Biasanya, dilakukan ketika merayakan sesuatu. Semisal ulang tahun, memperingati hari istimewa, perayaan pernikahan seseorang, atau target yang telah tercapai oleh sebuah perusahaan.

Ada aturan dalam ber-kanpai. Tidak sembarangan hal ini bisa dilakukan seenak jidat di Jepang. Melainkan ada langkah-langkah yang wajib diikuti. Biar afdol.

Pertama, bila Minna-san ingin menuangkan minuman, haruslah dipegang botol minumannya dengan kedua tangan terlebih dahulu. Satu tangan di perut botol, satu lagi di mulutnya. Lalu tuangkan dengan cara mengangkat perut botol ke atas dan menurunkan mulut botolnya. Bisa dimulai dengan menuangkan minuman pada orang yang lebih tua dahulu, kemudian orang-orang sekitar, dan yang terakhir untuk diri sendiri.

Bagi Minna-san yang kebagian dituangkan minuman, harap memegang gelas tersebut sebagai tanda terima kasih. Bila perlu ucapkan “Arigatou” yang artinya “Terima Kasih”. Bila ingin dituangkan minuman, Minna-san bisa mengangkat gelas lumayan tinggi sambil memintanya. Setelah semua gelas terisi, barulah angkat gelas tinggi-tinggi secara serentak dan teriak “Kanpaiiii” sambil adukan gelasnya pelan.

Awas, jangan sampai gelasnya pecah karena terlalu keras. Oh iya, dalam aturan makan orang Jepang, kita tidak boleh menuangkan minuman ke gelas sendiri sebelum ber-kanpai.

Itulah enam aturan makan orang Jepang yang Minna-san bisa praktikkan ketika mengunjungi Negeri Matahari Terbit nanti. 🙂
Bagaimana pun, tamu harus hormat pada tuan rumah, bukan? 😀

SHARE
Previous articleHatsune Miku feat. LUX, Akankah Membuat Rambutmu Berkilau?
Next articleTiga Youkai Terburuk Di Jepang #1 : Shuten Douji
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.