Aisatsu atau yang berarti dalam Indonesia kalimat sapaan ini, sangat penting dalam menjaga ramah-tamah serta sopan santun dalam bersosial. Entah itu untuk teman, rekan kerja, guru, dosen, atasan, atau kepada orang yang sekadar bertemu di dalam gerbong kereta. Semuanya dianjurkan sekali untuk bertegur sapa satu sama lain sebelum memulai percakapan lebih lanjut.

Nah, kalau dia adalah orang Indonesia atau orang yang menguasai bahasa Indonesia sih, pastinya sangat mudah bagi kita untuk menyapanya lebih dahulu. Tapi bagaimana jika itu orang Jepang? Atau mungkin, kita adalah WNI yang sedang travelling di Negeri Bunga Sakura dan pendatang baru di sana. Seperti apa kalimat yang tepat untuk menyapanya? Karena siapa tahu, cuma gara-gara kita tidak tahu soal Aisatsu, kalimat sapaan dalam bahasa Jepang, dan sok-sokan menyapa, malah terjadi salah paham antara kita dengan nihon jin (orang Jepang) tersebut.

So, daripada terjadi hal yang tidak-tidak, ada baiknya kita mempelajari sedikit tentang Aisastu terlebih dahulu. Seperti kata pepatah, “Sedia payung sebelum hujan.” πŸ™‚

Aisatsuuuu (1)

 

Berikut adalah Aisatsu yang sering digunakan oleh orang Jepang saat bertegur sapa sesamanya.

Ohayou gozaimasu (dibaca : Ohayo Gozaimas).

γŠγ―γ‚ˆγ† ございます。

Selamat pagi.

Ini adalah bentuk dari kalimat yang formal dan diujarkan saat bertegur sapa dengan orang Jepang di waktu pagi.

Namun, terkadang nihon jin sendiri sering menggunakan kata “Ohayou” saja untuk menyapa teman seumurannya, kalimat tidak formal dari Ohayou Gozaimasu.

 

Konnichiwa (dibaca : Koniciwa).

こんにけは。

Selamat siang / sore.

 

Satu kalimat yang sama untuk menyatakan dua waktu yang berbeda. Biasa digunakan pada jam 11 siang sampai dengan 5 sore.

 

Konbanwa (dibaca : Kongbangwa).

こんばんは。

Selamat malam.

 

Oyasuminasai (dibaca : Oyasuminasai)

γŠδΌ‘γΏγͺさい。

Selamat tidur.

 

Sayounara (dibaca : Sayonara).

γ•γ‚ˆγ†γͺら。

Selamat tinggal.

 

Mata ashita (dibaca : Mata asta).

また明ζ—₯。

Sampai jumpa.

 

Hajimemashite (dibaca : Hajimemaste).

γ―γ˜γ‚γΎγ—γ¦γ€‚

Kenalkan.

Nah, kata yang ini sebenarnya fleksibel artinya. Budaya Jepang selalu menggunakan kata ini untuk mengawali perkenalan. Seperti hendak mengenalkan diri kamu pada orang baru.

 

Douzo Yoroshiku, Yoroshiku Onegaishimasu. (dibaca : Dozo Yorosku, Yorosku Onegaisimas.

γ©γ†γžγ‚ˆγ‚γ—γ, γ‚ˆγ‚γ—γγŠι‘˜γ„γ—γΎγ™γ€‚

Salam kenal, mohon bantuannya.

Ini juga artinya fleksibel. Budaya Jepang selalu menggunakan kalimat ini untuk mengakhiri perkenalan dan meminta kerja sama yang baik pada orang lain.

Aisatsuuuu (2)

 

Yoroshiku (dibaca : Yorosku)

γ‚ˆγ‚γ—γγ€‚

Salam kenal, mohon bantuannya.

Bentuk non-formalnya kalimat di atas.

 

Kochirakoso (dibaca : Kocirakoso).

こけらこそ。

Senang berkenalan denganmu.

Jawaban untuk orang yang sudah memperkenalkan dirinya pada kita.

 

[Doumo] Arigatou Gozaimasu (dibaca : [Domo] Arigato Gozaimas).

[どうも] γ‚γ‚ŠγŒγ¨γ†γ”γ–γ„γΎγ™γ€‚

Terima kasih [banyak].

Tinggal tambahi Doumo di depan Arigatou Gozaimasu untuk mengatakan “Terima kasih banyak.”

 

Douitashimashite (dibaca : Doitasimaste).

γ©γ†γ„γŸγ—γΎγ—γ¦γ€‚

Sama-sama.

 

Sumimasen (dibaca : Sumimasen).

ζΈˆγΏγΎγ›γ‚“γ€‚

Maaf, Permisi.

 

Di Jepang, kata Sumimasen bisa digunakan untuk “Maaf” dan “Permisi”. Saat tidak sengaja menabrak orang saat berjalan atau kesalahan kecil lainnya, kita bisa mengucapkan Sumimasen.

 

[Hontou] Gomenasai (dibaca : [Honto] Gomenasai).

[ほうんとう] ごめγͺさい。

[Sungguh] Maafkan Aku.

 

Gomen (dibaca : Gomen).

ごめん。

Maaf.

Bentuk non-formalnya.

 

Ogenki desuka? (dibaca : Ogenki desuka?).

γŠε…ƒζ°—γ§γ™γ‹οΌŸ

Apa kabar?

 

Hai, okagesama de, genki desu (dibaca : Haik, okagesama de, gengki des).

γ―γ„γ€γŠγ‹γ’γ•γΎγ§γ€ε…ƒζ°—γ§γ™γ€‚

Ya, puji syukur, baik-baik saja.

 

Shitsurei shimasu.

ε€±η€Ό します。

Permisi.

 

Sore ja, mata ne.

γγ‚Œγ˜γ‚ƒγ€γΎγŸγ€‚

Kalau begitu, sampai jumpa ya.

 

Itadakimasu.

γ„γŸγ γγΎγ™γ€‚

Selamat makan/minum.

Biasa diucapkan saat hendak makan / minum.

 

Gochisousama deshita (dibaca : Gocisosama desta).

γ”γ‘γγ†γ•γΎγ§γ—γŸγ€‚

Terima kasih atas hidangan ini.

Biasa diucapkan setelah makan/minum.

 

Gochisousama (dibaca : Gocisosama).

ごけそうさま。

Makasih ya buat hidangannya.

Bentuk tidak formal dari kata kalimat tersebut.

 

Otsukaresama deshita (dibaca : Otsukaresama desta).

γŠη–²γ‚Œγ•γΎγ§γ—γŸγ€‚

Terima kasih atas kerja samanya.

Lazim dikatakan setelah kerja kelompok atau dibantu seseorang dalam menyelesaikan pekerjaan.

 

Otsukare (dibaca : Otsukare).

γŠγ€γ‹γ‚Œγ€‚

Kerja yang bagus.

Bentuk non-formalnya.

 

Ittekimasu (dibaca : Itekimas).

いってきます。

Pergi dulu ya.

Diucapkan pada orang lain di dalam rumah (Ibu, Ayah, Kakak, dsb) ketika kita mau pergi ke luar.

 

Itterasshai (dibaca : Iterasai).

いってらっしゃい。

Hati-hati di jalan.

Jawaban dari kata Ittekimasu.

 

Tadaima (dibaca : Tadaima).

γŸγ γ„γΎγ€‚

Aku pulang.

Diucapkan saat seseorang pulang ke rumah.

 

Okaerinasai (dibaca : Okaerinasai).

γŠγ‹γˆγ‚Šγͺさい。

Selamat datang.

Jawaban dari Tadaima.

 

Okaeri (dibaca : Okaeri).

γŠγ‹γˆγ‚Šγ€‚

Selamat datang.

Bentuk non-formal.

Nah, Minna-san. Itulah beberapa Aisatsu yang bisa kalian pergunakan untuk menyapa nihon jin yang kalian temui. πŸ™‚ Jangan sampai kita dicap sebagai orang yang tidak ramah di negeri orang ya. Tapi, kalau kalian khawatir tidak dapat melanjutkan percakapan setelah itu dengan bahasa Jepang. Kalian bisa ucapkan ini sambil meringis, “Hontou ni gomenasai. Nihongo ga sukoshi dake dekimasu kara-” Lalu kalian akan melanjutkan percakapan dengan bahasa gado-gado namun menyenangkan. πŸ˜€

Mata ashita nee, stay tuned on Akiba Nation!

Oh, iya, sedikit informasi. Orang-orang Jepang sering kali menghilangkan huruf vokal “i” dan “u” pada kata “shi” dan “su” ketika berucap. Seperti “Yoroshiku” diujar “Yorosku” saja, atau “Gozaimasu” menjadi “Gozaimas”. Namun, ada juga nihon jin yang mengucapkan secara lengkapnya, membawa huruf vokal “i” dan “u” tersebut. Suka-suka aja, tidak terlalu dipermasalahkan kok soal ini. Artinya juga nggak akan berubah. πŸ™‚

SHARE
Previous articleTradisi Paling Durhaka di Dunia, Salah Satunya di Jepang!!!
Next articleKimahri Sunkiss, Cosplayer yang Tak Takut Trial and Error
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.