Mungkin sudah ada banyak yang lumayan kenal akan nama Arakawa Hiromu, sang mangaka Fullmetal Alchemist. Setelah menyelesaikan salah satu seri animanga terapik, ia membuat manga yang lebih relax berupa drama komedi keseharian menjadi murid sekolah agrikultur dengan manga Gin no Saji atau Silver Spoon. Tapi serialisasinya tak begitu stabil, dan setelah berbagai hiatus, baru diumumkan manga itu akan tamat.

Gin no Saji buatan Arakawa Hiromu pertama diterbitkan tahun 2011. Manga tersebut mengisahkan seorang remaja bernama Hachiken yang menjadi murid baru dalam sebuah Sekolah Agrikultur Yezo, dimana ia menemui beragam tantangan dan teman baru dalam menjalani kehidupan peternak dan petani, dari memanen buah sampai membuat keju dan lain-lain lagi.

Manga tersebut diserialisasikan dalam majalah manga Shonen Sunday, dan telah diadaptasi menjadi seri anime yang dianimasikan oleh studio A-1 Pictures pada tahun 2013, dan juga telah diadaptasi menjadi film live-action pada tahun 2014.

Dan sekitar tahun 2014 tersebut serialisasinya mulai tak berjalan begitu stabil, dan dijelaskan oleh Arakawa kalau kedepannya lagi kelanjutan seri itu juga akan berjalan lebih lambat, dan itu karena ada anggota keluarganya yang sedang sakit.

Sejak itu sesuai dengan penjelasan Arakawa, manga Gin no Saji sering sekali keluar masuk masa hiatus, dengan masa hiatus yang lumayan lama terjadi dari Juli 2017 sampai Mei 2018, dan kemudian tak lama masuk hiatus lagi dari Juni 2018, yang baru selesai dalam minggu ini.

Tapi ada kabar yang tak begitu menyenangkan lagi, karena dikatakan kalau bahkan kembalinya manga tersebut juga tak akan lama. Karena diberi pengumuman kalau manga Gin no Saji akan tamat dalam 4 chapter lagi.

Dan baru diberi penjelasan oleh Arakawa sensei kenapa banyak sekali hiatus yang terjadi dalam serialisasi manga Gin no Saji. Ternyata itu masih terhubung dengan penjelasan awalnya dimana anggota keluarganya sakit.

Dikatakan kalau sebenarnya dalam beberapa tahun ini suami dan anaknya mengidap berbagai penyakit yang tak dapat disembuhkan, walau tak diberi kejelasan apa penyakitnya. Ini membuatnya jadi sibuk menangani biaya perawatan, dokumennya, prosedur, dan seterusnya, yang membuatnya sadar akan kehebatan asuransi di Jepang.