Sekarang, Desain Grafis telah mendapat tempat tinggi di antara segudang keahlian yang lain. Pasalnya, kemajuan teknologi membuat skill satu ini sangat jauh melesat ke depan. Orang-orang tidak membutuhkan lagi alat gambar manual yang menyebalkan. Kita bisa memulai pekerjaan kita sebagai desainer dengan praktis serta efisien berkat perangkat nirkabel yang mendukung. Semuanya jadi serba mudah sekarang. Pekerjaan yang memerlukan keahlian menggambar tidak lagi berupa pekerjaan yang susah dan ribet. Kita wajib bersyukur karena hal ini.

Omong-omong, Kalian punya keinginan jadi Pelukis, atau barangkali Komikus? Nah, kalau misalnya kagum dengan karya-karya orang Jepang, terutama dalam ranah manga dan anime-nya. Maka 9 hal ini mungkin dapat membuat gambar buatan Minna-san jadi lebih mengarah ke ‘Jepang Banget’! Penasaran? Yuk, langsung saja kita simaknya daftarnya.

1. Tipografi yang Tidak Neko-neko, Tapi Kelihatan Unik

1Akiba-chan dan Akiba-kei sekalian pernah dengar soal kontroversi desain logo Olimpiade Tokyo 2020 yang pernah viral itu? Nah, mungkin hal tersebut terjadi karena mereka terlalu mengikuti ilmu tipografi tertentu. Tetapi, terlepas dari fenomena satu ini, orang Jepang juga punya patokan tipografi mereka tersendiri. Telah menjadi fakta tak terbantahkan bahwa masing-masing individu di Jepang mempunyai kekhasan disiplin ilmu tipografi. Meski tiap tipografi yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda, namun diketahui kebanyakan dari orang Jepang memilih seni mencetak yang pada dasarnya sama. Yakni, tidak ribet, simpel, mudah dibaca, dan unik untuk dilihat.

Tipografi perusahaan Jepang lebih mengutamakan pesan produk dapat tersampaikan dengan jelas di hadapan para konsumen, ketimbang gaya-gayaan. Mereka tidak memakai tulisan yang sekiranya sulit untuk dibaca banyak orang, contohnya grafiti dan doodle. Mereka hanya akan menggunakan tipografi standar, terkesan sederhana, tetapi menyimpan nilai keunikan tersendiri. Banyak di antara mangaka yang menggunakan tipografi hampir sama satu sama lain, namun punya sisi yang menjadi sekat pembeda.

2. Bahasa Gado-gado

2Meski Bahasa Inggris adalah pelajaran yang sulit bagi orang Jepang kebanyakan, tetapi desain grafis mereka tetap sering memasukkan unsur percampuran bahasa Inggris-Jepang. Walau dirasa kurang ‘klop’ jika dikombinasikan dengan huruf Indonesia yang sama-sama alfabet, namun kalimat bahasa Inggris sangat menarik kalau disatukan dengan kanji, hiragana atau katakana. Karena bentuk huruf Jepang yang lebih mengarah ke guratan atau “stroke”, menjadikannya serasi jika dipadupadankan dengan huruf alfabet dari Inggris.

Huruf-huruf Jepang yang sebenarnya hasil asimilasi sederhana dari kanji Tiongkok yang rumit, memang banyak disambungkan dengan kata atau kalimat Inggris. Biasanya terlihat pada produk makanan, minuman, cemilan ringan, dan sablon gambar pakaian, terutama kaus. Ilmu tipografi milik Negeri Bunga Sakura juga andil banyak dalam hal ini. Mereka menggabungkan banyak unsur khas mereka. Karena itulah, wilayah Barat, terutama Negeri Paman Sam, ketularan gaya orang Jepang. Mereka juga sering memasukkan kata-kata dari bahasa negara lain untuk keperluan perancangan busana. Seperti bahasa Latin, Spanyol, Arab, Yunani, Prancis, Tagalog, dan juga Indonesia.

3. Pilihan Warna yang Cerah dan Terang

3Kalau Minna-san adalah orang yang sering mondar-mandir situs jual-beli Jepang (semacam online shop), maka pasti tidak akan heran jika poin satu ini masuk ke dalam urutan ketiga. Ya, karena situs Jepang kebanyakan memakai warna yang super-cerah nan mencolok. Palet, pembatas, hiasan, tema, sampai huruf di situs Jepang bahkan menggunakan warna-warna terang. Tidak hanya di situs, tetapi para desainer asal Negeri Bunga Sakura memang suka mengaplikasikan pilihan warna ini. Seperti di lukisan, gambar, komik, bahkan sampul buku-buku (materi pelajaran, novel, majalah, dsb).

4. Sapuan kuas

4Kaligrafi adalah salah satu kebudayaan yang sangat tua. Di Jepang sendiri, ada kebudayaan yang mirip kaligrafi, kebudayaan tersebut dinamai “Shodo”. Shodo adalah keahlian mengukir huruf kanji dengan sapuan kuas yang indah dan tajam seperti pedang. Anak-anak mulai mempelajari Shodo sejak masuk kelas 1 SD. Nyatanya, ada tingkatan tersendiri dalam ilmu satu ini, lho, Minna-san. Banyak yang memutuskan untuk mendalami ilmu Shodo untuk mencapai level “Master”. Nama peringkat yang digunakan hampir sama dengan ilmu bela diri di sana.

5. Gradien

5Teknik ombre ternyata tidak cuma berjaya di dunia fashion dan hairstyle. Gradasi warna yang lembut ternyata cukup populer di dunia desain grafis Jepang. Bisa kalian lihat di banyak poster, fanart, lukisan, komik berwarna, logo, dan sebagainya, para desainer asal Negeri Matahari Terbit sering menggunakan teknik ombre. Teknik gradasi warna satu ini memang membuat gambar kita jadi kelihatan Jepang banget, Minna-san!

6. Pola Kelopak Bunga

6Tahu Ikebana? Kalau tidak salah penulis pernah mengulas tentang seni menyusun bunga tersebut. Silakan dicari bagi yang penasaran. Nah, Ikebana juga dikenal sebagai teknik desain grafis oleh para seniman Jepang, lho. Akiba-chan dan Akiba-kei sekalian harus tahu soal ini. Dikarenakan Ikebana bersifat artistik yang melibatkan detail kelopak bunga dan struktur bagian tumbuhan, maka seni satu ini memengaruhi gaya para desainer lokal Jepang. Mereka sering menaruh pola bunga-bunga pada objek proyek gambar mereka. Jika kalian ingin desain grafisnya kelihatan Jepang banget, maka dianjurkan memasukkan seni Ikebana ke dalamnya.

7. Lingkaran dan Simetri

7Lingkaran dan simetri merupakan sebuah pendahulu bagi dunia desain grafis Jepang sejak lampau. Namanya “Mon”, yakni logo keluarga berbentuk lingkaran sebagai awalannya. Desain lingkaran ini juga bisa masih bisa kita lihat dan nikmati di Jepang pada banyak produk.

8. Kawaii dan Moe

8Kurang Jepang banget kalau skill desain grafis kita tidak bisa menggapai poin kedelapan ini. Ya, Kawaii dan Moe sangat diperlukan karena di Jepang sedang tren tokoh-tokoh anime yang punya paras imut.

9. Terlalu Banyak Tulisan

9Pernah menyadari kalo iklan Jepang itu selalu penuh dengan teks? Untuk beberapa desainer dan perusahaan, semakin banyak informasi yang bisa mereka berikan pada publik, dipercaya akan semakin baik dan pesan dari iklan tersampaikan. Terkadang hal seperti ini pun digunakan juga sebagai teknik pemasaran, tapi di lain waktu, mereka cuma sekadar iseng memasukkan banyak tulisan saja biar terlihat keren.

Itulah 9 hal yang mungkin bisa bikin keahlian desain grafis kita jadi Jepang banget! Semoga bermanfaat bagi para teman komikus yang sedang tahap belajar. Terus semangat! Tuangkan lebih banyak lagi tinta berwarna pada dunia yang hitam-putih! 😀

SHARE
Previous articleKenalan Sama Deruu RioTa, Yuk? Komikus Deadly 7 Inside Me yang Suka Peluk Panda!
Next articleSinger ke Seiyuu? Suzuki Konomi Melangkah ke Area Baru
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.