Di mana bumi dipijak, di situlah langit dijunjung. Begitu kiranya pribahasa yang biasa digunakan untuk mengisyaratkan bahwa segala-galanya memiliki peraturan masing-masing. Termasuk Jepang, Negeri Matahari Terbit itu pastinya mempunyai peraturannya sendiri, berbeda dengan Indonesia, entah yang tercatat atau tidak tercatat.

Berikut Penulis akan paparkan, hal-hal yang tidak boleh dilakukan di Jepang. Minna-san sangat dianjurkan mengetahui ini sebelum berwisata atau tinggal di Negeri Bunga Sakura tersebut. Agar kelak nantinya Minna-san semua tidak mendapat sanksi hukum, atas tindakan yang Minna-san lakukan karena ketidaktahuan semata.

Check it out!

  1. Mengenakan Alas Kaki Ketika Memasuki Rumah dan Restoran

Capt. Sandal tradisional Jepang

Jepang adalah negara maju yang penuh dengan tata krama dan kesopansantunan, penduduknya juga sangat menjaga kebersihan yang ada. Oleh karenanya, mereka yang tidak membuka alas kaki mereka saat memasuki rumah seseorang, entah itu teman, guru, atasan/bawahan, atau orang yang kita kenal lainnya, sangat dianggap tidak sopan. Peraturan tidak tertulis ini sama halnya di Indonesia, mungkin bisa dibilang, norma baik satu ini diadopsi dari tentara Jepang ketika masa penjajahan dahulu. Kebanyakan orang maka akan membuka alas kaki merela ketika menginjak teras depan rumah dan memasuki dalamnya, demi menghormati perasaan tuan rumah yang senantiasa menjaga lantainya agar tetap bersih.

Akan tetapi, di Jepang sendiri, restoran pun memberlakukan peraturan ini. Karena lazimnya restoran di Jepang menggunakan cara makan tradisionalnya, duduk bersila atau bertimpu di atas lantai dengan di hadapannya terdapat meja lebar berkaki kecil, tempat tersedianya hidangan. Tidak seperti umumnya restoran di Indonesia, mereka lebih mengambil gaya santap ala eropa atau barat, menggunakan kursi dan meja yang sama tingginya, serta siapapun yang masuk, tidak usah melepaskan alas kaki mereka.

Oh, iya, Minna-san hanya diperbolehkan menggunakan kaos kaki saja ketika memasuki rumah dan restoran. Kalau takut kaos kaki Minna-san basah saat memijak kamar kecil, Minna-san bisa menggunakan sandal yang disediakan khusus untuk ke kamar kecil, tenang saja, jangan khawatir, nyaris semua restoran dan rumah di Jepamg menyediakan sandal khusus tersebut.

Tapi, perlu dicatat. Menurut kebudayaan orang Jepang, sandal kamar kecil adalah obyek yang paling kotor dan penuh kuman di alam semesta ini, oleh karena itu, Minna-san tidak boleh keluar dari kamar mandi mengenakan sandalnya. Jika Minna-san lupa membuka sandal dan terbawa-bawa sampai keluar kamar mandi, siap-siap saja diberi tatapan aneh seakan-akan Minna-san mengotori rumah atau restoran mereka lumpur jalanan.

 

  1. Duduk Di Priority Seat Dalam Transportasi Umum

Capt.Priority Seat yg ada di Shinkansen

Kita semua tahu bahwa Jepang adalah negara yang sangat amat paling disiplin. Di transportasi umum, seperti kereta api (kereta api adalah alat transportasi umum yang paling sering digunakan di Jepang), ada yang namanya Priority Seats, yaitu tempat duduk khusus untuk orang-orang tertentu. Kalau di Indonesia sendiri, cuma dipisahkan orang yang merokok dan tidak merokok. Namun, jika di Jepang, ada beberapa tempat duduk untuk 5 macam jenis orang; untuk Manula, wanita mengandung, wanita yang membawa bayi, orang sakit, dan salaryman yang mabuk. Jika Minna-san duduk di tempat yang tidak semestinya, semisal duduk di priority seat tetapi bukan salah satu dari 5 yang disebutkan di atas, maka tak tanggung-tanggung, polisi akan menemui Minna-san dan memborgol Minna-san. Hiiih, menyeramkan juga ya? Jadi, jangan asal duduk deh kalau di Jepang mah.

 

  1. Memberi Uang Tip Pada Pelayan Restoran

Capt.Yen ialah mata uang republik Jepang

Di Indonesia hal ini sangatlah wajar jika Minna-san sebagai pelanggan memberi uang tip pada pelayan, malahan banyak pelayan dari restoran yang mengharapkan tip dari para pelanggannya. Namun di Jepang, jangan harap para pelayan mau menerima uang tip dari Minna-san, itu bukanlah suatu intruksi dari atasan serta sangat tidak boleh normanya. Karena jika Minna-san memberi uang tip kepada mereka, itu sama saja Minna-san menginjak-injak harga diri mereka, memandang rendah mereka. Jadi jangan heran kalau mereka memberi muka sinis kepada Minna-san jika Minna-san memaksa untuk memberi mereka uang tip. Weh, sebuah penghormatan yang besar terhadap harga diri ya?

 

  1. Memetik Bunga Sakura

Gambar-Bunga-Sakura-di-Puncak-Musim-Semi

Kelopak bunga Sakura merupakan simbol nasional negara para samurai ini. Menurut estetika orang Jepang, bunga ini dianggap sangat keramat dan lebih indah daripada jenis bunga lain karena jangka hidupnya yang tergolong pendek, karena bunga sakura hanya akan mekar pada musim tertentu.

Nah, kebiasaan Minna-san di Indonesia yang suka sembarangan memetik bunga di taman atau di tempat umum lainnya, jangan dibawa-bawa ke Jepang sana ya. Walau kerap membuat Minna-san tergiur akan keindahannya, ingin sekali menyelipkan kelopak bunga itu ke telinga Minna-san, sebaiknya jangan dilakukan. Karena selain nanti kena alergi karena getah bunga sakura, Minna-san juga akan dianggap perusak alam oleh orang Jepang. Oleh sebab itu mereka lebih senang memungut bunga sakura yang gugur, dibanding yang masih ada di tangkainya.

 

  1. Oi, anata!

Capt.Sapaan Indonesia yg pernah masuk adegan anime

“Oi, anata!” sama artinya dengan, “Hei, kamu!” di Indonesia, dan kalimat tersebut tidaklah terdengar tidak sopan, aneh, mengejek, merendahkan, dan sebagainya. Akan tetapi, di Jepang, kalimat tersebut bukanlah hal yang santun ketika Minna-san memanggil seseorang. Lebih baik menyebutkan namanya ditambah partikel ‘-san’ ketika memanggil nama mereka yang orang Jepang, seperti; “Yuuki-san!”. Tambahi kata-kata Tsumimasen (Permisi), Chotto Kudasai (Tunggu), dan sebagainya untuk pemanis, agar panggilan menjadi lebih terdengar enak di telinga mereka. Akan tetapi, jika Minna-san tidak tahu namanya dan dia adalah orang baru, gunakan Tsumimasen pada kalimat panggilan Minna-san, jangan gunakan Oi. Karena kalimat Oi atau Hei hanya untuk orang yang sudah kita kenal akrab sekali, seperti sahabat karib satu sekolah.

Berikut contoh panggilan, lihat dan bandingkanlah tingkat kesopanannya.

  1. “Oi, Anata!”, “Omae!”, “Anta!”

(Hei, kau!), (Kau!), (Sobat!)

  1. “Tsumimasen, kimi!”, “Chotto kudasai, Yuuki-san!”

(Permisi, kamu!), (Tunggu sebentar, Yuuki!)

 

  1. Menenggak Minuman Sebelum Bilang “Kanpai!”

Capt. Ilustrasti bersulang dari Anime Luffy

Kata “Kanpai!” merupakan bahasa Jepang yang artinya “Bersulang!”. Ini merupakan tradisi orang Jepang yang tak pernah ditinggalkan bahkan sampai generasi sekarang. Jika Minna-san minum dengan teman atau sekelompok orang dalam satu grup orang Jepang (baik grup besar maupun kecil) dan langsung minum sendirian, Minna-san terkadang akan ditegur oleh teman Minna-san, dibilang kalau Minna-san kurang solid dalam pertemanan, tidak setia kawan. Ya, karena kebanyakan orang Jepang akan meninggikan gelas minuman mereka, membeturkannya pelan dengan yang lain, dan berseru “Kanpai!” lalu menenggaknya. Itu adalah salah satu tradisi untuk lebih menjalin hubungan dengan lebih erat lagi, seperti keluarga.

Biasanya, tradisi bersulang ini dilakukan sebagai perayaang terhadap sesuatu atau hal hebat yang telah dicapai. Seperti ulang tahun, menikah, naik pangkat, setelah pertunjukan sendra tari, drama, perlombaan, dan sebagainya. Mereka membuka acara makan-makan dengan teriakan gembira “Kanpai!”.

 

  1. Mengotori Pemandian Air Panas
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ini adalah tindakan yang tidak terampuni. Pemandian Air Panas yang dalam bahasa jepang adalah “Onsen”, biasanya ada di dalam penginapan atau di pusat permandian air panas untuk umum. Di Onsen Minna-san diwajibkan untuk melepas seluruh pakaian tanpa terkecuali, dan Minna-san harus membersihkan diri (dengan sabun) sebelum masuk. Jika tidak, ya Minna-san bisa menebak sendiri. Karena ini merupakan aib yang besar, dapat dipastikan orang-orang disana akan menatap penuh jijik, menghindari, bahkan segera keluar dari pemandian air panas. Karena pemandian air panas di Jepang berbeda sekali dengan yang ada di Indonesia. Onsen lazimnya tidak bersifat milik pribadi atau personal, mereka menyewa untuk bisa mandi satu kolam bersama orang lain yang tidak mereka dikenal. Jadi, Minna-san yang pemalu jangan harap deh merendam tubuh dengan air hangat tanpa dilihatin orang-orang, kecuali kalau Minna-san mandi di bak kamar mandi sendiri.

 

  1. Tidak Membungkuk Di Hadapan Orang Lain

Capt. Ojigi adlh membungkukan badan khas Jepang

Presiden AS saja, Barack Obama, membungkuk karena ini adalah tradisi yang paling terkenal di Jepang, baik itu kepada partner bisnis, kenalan, teman, ataupun keluarga, seseorang diwajibkan untuk membungkukan badan (Ojigi) sebagai rasa segan serta menghormati. Jadi, jika seseorang tidak mau membungkuk di Jpang akan dianggap kasar dan tidak punya moral. Tapi jika orang Jepangnya sendiri mengerti tentang budaya negara lain, tidak heran jika dia akan langsung menyambar tangan Minna-san dan berjabat tangan. Terkadang ini sedikit lucu, karena sering kali mengakibatkan kebingungan yang campur aduk, membuat Minna-san bertanya-tanya dalam hati, lebih baik menjabat tangannya atau membungkuk? Dan tidak jarang akan terjadi Ojigi sekaligus jabat tangan. Seperti yang dilakukan presiden Barack Obama beberapa waktu lalu. Jadi, sebaiknya menunduk duluan deh. Biar mereka tahu kalau Minna-san sedikit-banyak mengetahui dan sangat menghormati adat istiadat mereka.

Itulah 8 hal yang tidak boleh dilakukan di Jepang. Setidaknya setelah membaca artikel ini, Minna-san jadi punya bekal untuk siap tinggal atau mengunjungi Jepang. 🙂

SHARE
Previous articleIntip Yuk Pembukaan Official Website Movie Koe no Katachi
Next articleHKT48 Siap Rilis Single Terbaru Mereka Minggu Depan
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.