Geisha adalah seorang seniman wanita tradisional Jepang yang berprofesi sebagai wanita penghibur bagi para laki-laki. Mereka memang menghibur seutuhnya, menemani mengobrol, memberi solusi terhadap masalah, petuah yang bijak, dan hal-hal baik lain yang sepertinya dibutuhkan oleh para kepala rumah tangga sedang bermasalah. Namun, jangka sangka bahwa Geisha merupakan sosok yang melayani dalam hal seksualitas, meskipun ada di antaranya yang berbuat seperti itu, menyalahi aturan pemerintah yang berlaku bagi para Geisha, seniman satu ini hanya bertugas menjadi sebatas “Sahabat” saja. Mereka akan dengan baik mendengar curahan isi hati si penyewa, berada di sampingnya ketika minum-minum, berbincang-bincang hingga terlelap dalam tidur.

Di Jepang sendiri, kawasan Gion di kota lama Kyoto terkenal sebagai pusat kegiatan Geisha. Mereka dididik dengan baik di sana dari umur sekian tahun untuk menjadi seorang Geisha, dibekali pengetahuan dan memainkan alat musik. Namu, sebelum Minna-san mencari dan bercengkerana dengan para Geiko alias Geisha, sebaiknya membaca thread ini sampai habis karena ada beberapa hal yang perlu Minna-san ketahui.

Berikut adalah ulasan Penulis mengenai 8 Hal Tentang Geisha, Seorang Seniman Wanita Asal Jepang. Ulasan ini juga pernah diulas pada situs resmi CNN, sehingga bisa dijamin kualitas keabsahannya.

  1. Potret-Memotret Geisha

Capt. Salah satu Geisha yg tertangkap kamera

Avi Lugasi, kontributor situs travel Windows to Japan membeberkan beberapa aturan tak tertulis saat memotret geisha. Sebagai penduduk Kyoto selama hampir 20 tahun, Avi telah melihat banyak turis memperlakukan

Geisha sebagai ‘objek’ foto semata. Mereka dikejar hanya untuk diabadikan dalam sebuah cetakan kertas, gambar tidak bergerak.

“Geisha sadar kalau mereka adalah aspek yang spesial dan unik dalam kultur Jepang. Jadi, ini adalah bagian dari hidup, oleh karena itulah mereka harus dihargai juga,” tuturnya.

Geisha yang bisa ditemui wisatawan di jalanan Kyoto biasanya akan berangkat kerja. Patut diingat, mereka tidak dibayar oleh pemerintah Jepang sebagai maskot dan sebagainya lho, Minna-san. Oleh karena itulah, sebisa mungkin jangan memotret dari depan atau menganggu serta menghalangi jalan mereka ya.

“Memotretlah dari samping atau belakang. Tak jarang turis memotret dengan memperlakukan geisha hanya sebagai ‘objek’. Padahal mereka juga manusia ,” tambah Avi.

  1. Waktu dan lokasi

Kebanyakan Geiko yang tinggal di Hanamachi (kawasan banyak Geisha) mulai keluar rumah pukul 17.45 waktu setempat. Ini adalah waktu paling tepat jika ingin melihat Geisha dan mengabadikan dalam bentuk gambar.

“Untuk hasil foto yang baik, jangan lupa perhatikan latar di belakang Geisha. Ini akan membuat foto menjadi dramatis tanpa mengganggu Geisha,” tutur Avi.

Ada 2 kawasan Hanamachi yakni Gion Higashi dan Gion Kobu. Dua kawasan ini adalah yang paling terkenal dibanding tiga kawasan lain seperti Kamishichiken, Pontocho dan Miyagawacho.

“Dua kawasan tersebut juga punya bangunan sejarah yang terpelihara baik. Memotret Geisha dengan latar Kyoto pada masa lampau membuatnya sangat fotogenik,” tambah Avi.

  1. Perbedaan Antara Geiko Dan Maiko

Capt. Maiko dg ciri khas bunga pada rambutnya

Semua Geiko mengikuti kursus atau sekolah, mereka diajarkan soal seni dan kultur Jepang. Mulai dari upacara minum teh, cara merangkai bunga, sampai belajar memainkan beragam alat musik. Calon Geiko yang masih menjalani kursus ini disebut Maiko, mereka bisa disebut Geisha pemula atau masih baru.

“Ada 2 perbedaan dasar Maiko dan Geiko. Maiko punya hiasan bunga di rambutnya, sedangkan Geiko tidak,” kata Avi.

Perbedaan kedua ialah terletak pada Obi atau Ikat Kimono. Avi memaparkan, Obi milik Maiko lebih panjang dan menjuntai ke bawah, sementara Obi Geiko dilipat menjadi bentuk kotak di bagian punggung mereka. Maiko juga terkadang mengenakan sandal jepit dari kayu yang berhak tinggi, sementara Geiko menggunakan sandal kayu berhak rendah. Lebih teliti lagi ya, Minna-san! Karena perbedaan kecil di atas sering kali mudah luput dari perhatian kita.

  1. Siapa Saja Bisa Mengenakan Pakaian Ala Geisha

Seniman Wanita

Setelah melihat aksi Geisha di Kyoto, tak sedikit turis wanita yang ingin berpakaian ala Geisha. Tentu saja hal tersebut mengambil fokus diri pemerintah Jepang, sehingga para petinggi wilayah mereka, Kyoto, mengakomodir kebutuhan yang satu ini.  Jika Minna-san ingin, maka datanglah ke Sagano, di mana semua wanita berpakaian ala Geisha lengkap dengan make up tebal. Di sana tersedia toko serta studio foto lengkap dengan peralatan ala Geisha seutuhnya. Minna-san bisa mengabadikan potret diri Minna-san dalam wujud dandanan seniman khas satu ini. Hebat bukan?

  1. Antara Geisha Dan Turis Berkostum Geisha

 

Tak sedikit pendatang yang gagal membedakan Geisha asli dengan turis yang berpakaian ala Geisha. Itu dikarenakan make up yang terlalu tebal sehingga menutupi jati diri seseorang, wajah serta tubuhnya berubah secaea drastis, sehingga tidak mudah dikenali saat dia sudah mengenakan pakaian Geisha ketimbang masih mengenakan pakaian biasa. Jadi, Minna-san bisa memedomani tips berikut agar bisa membedakan mana yang asli dan mana yang bukan.

“Pertama, perhatikan area Anda menemukannya,” ungkap Avi.

Kalau Minna-san berada di kawasan Kiyomizu dan sekitarnya, besar kemungkinan dia hanyalah turis berkostum Geisha. Lagipula, kalau memang dia adalah turis, biasanya orang tersebut akan berhenti dan mau berpose depan kamera. Tetapi jika Geisha asli jarang sekali ditemukan bertindak seperti itu, karena tugas mereka setelah mengenakan kostum adat mereka bukanlah berfoto ria.

“Geisha asli tidak akan melakukan itu. Mereka, saat sudah berpakaian lengkap, tak ada waktu untuk berpose sama sekali,” lanjut Avi.

 

  1. Jangan Kaitkan Dengan ‘Memoirs of a Geisha’

 

Geisha bukanlah pekerja seks komersil
Geisha bukanlah pekerja seks komersil

Bicara soal Geisha, banyak traveler ingat buku dan film berjudul ‘Memoirs of a Geisha‘. Film tersebut memang bicara soal kultur Geisha di Jepang. Namun, kondisinya berbeda jauh dengan yang aslinya di Kyoto.

“Memoirs of a Geisha adalah film fiksi, dan sama sekali tidak menggambarkan kehidupan Geisha,” jelas Avi.

Ya, kebanyakan buku cerita dan film itu didramatisir untuk menarik banyak minat pembaca. Oleh karena itu dianjurkan tidak menjadikan patokan sesuatu yang bersifat karangan fiksi dengan sesuatu yang sudah nyata konkretnya.

  1. Tidak Juga Bertemu Geisha?

Jika Minna-san mencari Geisha, malang melintang mencarinya sampai segala tempat dijelajahi tapi tidak ketemu juga, sebaiknya simak ini.

Sore hari, datanglah ke Ochaya (kedai teh) yang tersebar di berbagai penjuru Kyoto. Harganya memang agak mahal, namun inilah cara termudah bertatap muka dengan Geisha karena mereka sering berada di sana menemani para pria. Salah satu tempat paling terkenal untuk bertemu Geisha sendiri bernama Ichiriki Ochaya, sudah ada sejak 300 tahun lalu. Kalau mau merogoh kocek lebih, Minna-san bisa minta ruangan khusus untuk para tamu menghabiskan 90 menit bersama Geisha. Harganya tinggi sih, mulai dari 100.000 Yen (Rp 11,7 juta).

Namun jangan khawatir, ada opsi yang lebih murah kok. Kunjungi Gion Corner, buka dari pukul 18.00 waktu setempat, traveler bisa melihat aneka pertunjukan Geisha mulai dari upacara minum teh sampai tarian. Harga tiket masuknya 3.150 Yen (Rp 370.000) per orang. Cukup murah dibanding menyewa Geisha secara langsung.

  1. Ketahui Transportasi Dan Akomodasi Di Kyoto

Ini yang paling penting agar agenda Minna-san bertemu Geisha berjalan lancar. Sebelum menyambangi kota lama Kyoto, cari informasi tempat menginap dan transportasi selama di sana. Carilah penginapan di daerah strategis untuk melihat Geisha, terutama Gion di Higashiyama. Sedangkan untuk transportasi, para traveler bisa menggunakan Kyoto Sightseeing Card (1.200 Yen atau Rp 140.000 untuk 1 hari), atau Traffica Kyoto Card (1.000 Yen atau Rp 117.000 untuk 1 hari). Mungkin sekarang harganya bisa lebih tinggi dari yang disebutkan.

 

Nah, itulah ulasan 8 Hal Tentang Geisha, Seorang Seniman Wanita Asal Jepang. Semoga bermanfaat ya. 🙂

SHARE
Previous articleMuseum Bir Sapporo : Menelusuri Sejarah Bir Jepang !
Next articleKota-Kota Terindah di Jepang Part #1
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.