Minna-san pasti tahu, bahwa setiap lagu yang diciptakan untuk anak-anak biasanya bernada ceria dan penuh sukacita, liriknya pun dibuat seriang mungkin, bermaksud agar para anak-anak yang mendengarkannya segera terhibur kemudian berdendang bersama iramanya. Indonesia sendiri punya banyak sekali lagu anak-anak, jika dihitung jumlahnya mencapai puluhan, serta bukanlah hal yang mungkin jika Penulis menuliskan semua lagu anak-anak yang Nusantara kita punya.

Akan tetapi, dibalik semua kebahagiaan dan gembira yang terpaut pada lagu anak-anak selama ini kita dengar, ternyata di Jepang lantunan tembang lucu itu terasa agak sedikit menyeramkan. Bukan saja pada nadanya yang terkesan berdawai lirih nan horor, penuh kekelaman, melainkan juga pada liriknya.

Mungkin orang-orang Jepang terbiasa dengan hal tersebut, namun di Indonesia, bagi orang-orang kita tepatnya, lagu anak-anak mereka terdengar aneh serta tidak sepantas dengan usia anak-anak yang seharusnya riang ceria. Berikut adalah 3 Lagu Tradisional Anak-anak Di Jepang yang Bernuansa Mistis.

1 – Teru-Teru Bozu Song (てるてる坊主)

Capt.Menjahit pangkal kepala boneka Teru-teru Bozu

Teru-teru Bozu adalah lagu tradisional anak-anak yang mendapat jajaran pertama dalam thread ini. Entah karena alunan iramanya yang terasa kaku, mencekam, dan lembut sekali, atau karena lagu Teru-teru Bozu dipercaya masyarakat Jepang dapat menangkal serta menurunkan hujan. Betapa mistisnya coba?

Teru-teru Bozu sendiri merupakan semacam boneka tradisional Jepang yang mudah dibuat. Biasanya boneka ini dirangkai dengan menggunakan kertas tissue atau bisa juga dibuat dengan kain putih, pada pangkal kepala diikat bersama benang atau tali dengan sangat kencang, hingga sekilas terlihat seperti hantu. Boneka ini biasanya digantung di dekat jendela atau di pohon. Kita bisa saja menggantung Teru-teru Bozu dengan posisi terbalik yang artinya kita meminta hujan, bukan sebaliknya. Jadi, bukan hal yang heran lagi jika orang Indonesia sering mengiranya hantu sungguhan yang sedang berterbangan di sekitar rumah orang Jepang.

Setelah selesai memasang boneka itu, kita mesti menyanyikan lagunya, maka konon apa yang kita minta, hujan atau tidak hujan, akan terkabul esok hari. Seperti berikut ini lirik lagu Teru-teru Bozu:

Teru-teru-bōzu, teru bōzu
(Teru teru-bozu, teru bozu)

Ashita tenki ni shite o-kure
(Buatlah esok hari yang cerah)

Itsuka no yume no sora no yō ni
(Seperti langit di kadang mimpi)

Haretara kin no suzu ageyo
(Jika besok cerah, aku akan memberikan sebuah bel emas)

Teru-teru-bōzu, teru bōzu
(Teru-teru-bōzu, teru bōzu)

Ashita tenki ni shite o-kure
(Buatlah esok hari yang cerah)

Watashi no negai wo kiita nara
(Jika kau membuat keinginanku terwujud)

Amai o-sake wo tanto nomasho
(Kita akan minum banyak anggur beras manis)

Teru-teru-bōzu, teru bōzu
(Teru-teru-bōzu, teru bōzu)

Ashita tenki ni shite o-kure
(Buatlah esok hari yang cerah)

Sorete mo kumotte naitetara
(Tetapi jika awan menangis)

Sonata no kubi wo chon to kiru zo
(Lalu aku akan memenggal kepalamu)

 

2 – Kagome Kagome (かごめかごめ)

Capt. Kagome Kagome mempunyai nuansa horor sekali

Kagome Kagome ialah tembang anak-anak Jepang yang menyeramkan selanjutnya setelah Teru-teru Bozu. Siapa saja orangnya, kecuali Jepang, nyaris akan merinding setelah mendengar nyanyian ini.

Kagome Kagome sebenarnya merupakan sebuah permainan tradisional Jepang yang dimainkan oleh sekelompok anak-anak, mereka semua bernyanyi sambil berjalan bergandengan tangan melingkari seorang anak yang mendapat giliran berjaga. Anak yang mendapat giliran biasanya berjaga dengan duduk duduk mendekam di tengah lingkaran sambil menutup mata dengan kedua tangan. Ketika lagu selesai dinyanyikan, maka anak itu harus menebak nama anak yang persis berada di belakangnya. Anak yang namanya berhasil ditebak akan mendapat giliran berjaga berikutnya.

Permainan ini dilakukan oleh sekelompok anak kecil yang terdiri dari 5 hingga 6 orang. Bila peserta terlalu banyak, anak yang mendapat giliran berjaga akan sulit untuk menebak nama anak yang persis berada di belakangnya, oleh karenanya 5 hingga 6 orang anak lebih ideal untuk memainkan permainan satu ini. Namun, dibalik permainan Kagome Kagome, tersimpan lirik lagu yang jika artikan ke Indonesia terasa amat berbeda. Dalam syair lagu tersebut terasa menyiratkan sosok bukan manusia yang misterius, kontras bersamaan teriakan riang dan senda gurau anak-anak kecil ketika memainkannya.

Berikut adalah lirik Kagome Kagome yang Minna-san bisa simak.

Kagome kagome, kago no naka no tori wa
(Kagome, Kagome, burung dalam sangkar)

Itsu itsu deyaru? Yoake no ban ni
(Kapan, kapan, kau keluar? Saat malam dini hari)

Tsuru to kame to subetta
(Burung jenjang dan penyu pun tergelincir)

Ushiro no shoumen daare?
(Siapa yang ada tepat di belakangnya?)‪

 

3 – Tooryanse (通りゃんせ)

Capt. Permainan Tooryanse dalam ilustrasi kartun

Tooryanse adalah lagu tradisional anak-anak di Jepang yang bernuansa mistis. Lagu tersebut biasa dinyanyikan dalam permainan tradisional Jepang. Cara mainnya ialah dengan dua orang anak saling berhadapan dan tangan mereka saling berhubungan membentuk sebuah lengkungan, membuat semacam pos pemberhentian. Sedangkan, anak-anak lain yang tersisa berbaris berjalan melewati bawah lengkungan secara memutar. Anak yang kebetulan berada di bawah lengkungan saat lagu selesai dimainkan maka ia akan tertangkap!

Mungkin ini terdengar seperti permainan Ular Naga di Indonesia, tetapi lirik lagu yang digunakan dan artinya tentu berbeda sekali. Dalam tembang tersebut seolah bercerita tentang seseorang yang ditawari perjanjian atau kontrak dengan sosok bukan manusia. Dan sebagai imbalan, orang tersebut menjadikan dirinya sendiri sebagai jaminan. Betapa mistisnya.

Berikut merupakan lirik Tooryanse, harap hayati dengan baik.

Tooryanse tooryanse
(Melewati, melewati)

Koko ha doko no hosomichi ja
(Di mana tujuan jalan sempit ini?)

Tenjin-sama no hosomichi ja
(Ini adalah jalan ke Kuil Suci Tenjin)

Chiito tooshite kudashanse
(Tolong biarkan kami lewat)

Goyou no nai mono toosha senu
(Orang yang tidak usaha biasanya tidak diizinkan lewat)

Konokono nanatsu no oiwai ni
(Anak ini sekarang sudah berusia tujuh tahun)

O fuda wo osame ni mairimasu
(Kami datang untuk membuat penawaran kami)

Ikiha yoi yoi kaeriha kowai
(Pergi dengan aman, tetapi tidak kembali)

Kowai nagara mo tooryanse tooryanse.
(Jika kamu siap, maka lewati, lewati)

Nah, Minna-san, begitu seram ya arti dari lirik-lirik lagu tersebut? Apalagi jika Minna-san melihat video melalui url youtube yang telah Penulis sediakan, akan terasa sekali jika bulu kuduk Minna-san berdiri semua. Entah bagaimana sebabnya bisa terasa horor. Namun, ada yang mengatakan jika semua nuansa mistis yang tercipta dari lagu tersebut adalah karena film-film horor. Mereka yang memakai tembang ini sebagai musik seram di film horor mereka, maka otomatis mencipta paradigma bahwa lagu-lagu tersebut menyeramkan dan berkaitan dengan hal mistis. Masuk akal juga sih, tapi lebih masuk akal lagi kalau Minna-san terus pantengin Akiba Nation. Kenapa? Karena selalu ada hal menarik seputar Jepang! Sampai jumpa~ 🙂

SHARE
Previous articleBerfoto Di Dalam Air Tanpa Kebasahan? Cuma Ada Di Jepang Lho!
Next article99.9 Criminal Lawyer – Kebenaran di Balik 0.1%
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.