Sudah banyak yang diketahui perihal para penduduk Jepang, dimana nyaris seluruhnya merupakan hal-hal yang baik, seperti pekerja keras, sopan santun, ramah, menjaga budaya, menghormati waktu, dan lainnya. Akan tetapi, beda lagi dengan khusus seputar cowok Jepang. Tidak hanya yang baiknya saja yang terlihat, semisal tampan, putih, berparas oriental, cerdas, cool, dan sebagainya, namun ada pula poin-poin buruk yang datang dari cewek asing tentang para cowok Jepang.

Bermula dari sebuah situs berita hiburan Jepang, bernama Bucchi News, telah menyurvei pada 50 cewek asing yang tengah belajar di Jepang, soal apa yang mereka pikir adalah ‘kekurangan’ dari kaum adam asal Jepang. Dan inilah hasilnya.

 

  1. Terlalu Banyak Hobi yang Aneh

Capt. Laki-laki Jpg Punya Hobi Idol yg Aneh

Ini bukan soal para cowok yang hobi membuat robot, game, menonton anime, membaca manga, atau gym (berolahraga), melainkan soal kegemaran mereka terhadap apa yang disebut-sebut sebagai ‘Idol’. Menurut kaum hawa asing, apakah terlalu penting untuk para cowok Jepang rela berdiri berjam-jam lamanya hanya untuk dapat berjabat tangan dengan anggota sebuah grup idol, salah satunya yakni AKB48. Atau mereka menjadi sangat marah saat Idol favorit mereka mengencani pria lain, berfoto mesra, makan malam, dan sekadar mendapat sapaan. Spontan saja itu membuat banyak dari cewek-cewek berpikir, apa yang telah mengubah mainset pikiran cowok Jepang sehingga bertindak seperti itu. Tidak hanya merasa cemburu, namun nyaris semua peserta survei bilang bahwa mereka seperti ‘terabaikan’ ketika kumpulan grup wanita imut tersebut manggung. Tidak sampai disitu saja, mereka juga heran dengan kecenderungan para pria dewasa Jepang yang menyukai gadis-gadis lolita atau dibawah umur yang disebut “Lolicon”. Dan sampai sekarang hal-hal di atas masih dipertanyakan alasannya.

 

  1. Nafsu Makan Kecil

Seorang pelajar dari Negeri Tirai Bambu, China, berusia 21 tahun berkata, “Cowok-cowok Jepang tidak banyak makan. Meskipun kami berada di sebuah restoran, mereka hanya memesan makanan yang termurah saja dan tidak memesan alkohol. Mereka juga tidak menghabiskan makanannya, jadi saat kami pergi untuk makan bersama, suasananya menjadi tidak menyenangkan dan kaku.”

Ya, kebanyakan dari para pria Jepang yang tidak suka makan banyak, terutama remajanya. Mereka memakan sedikit saja agar tidak menjadi gendut, lebih baik kurus ketimbang tambun adalah prinsip mereka. Ada banyak pula untuk yang memilih tidak meminum alhokol, lazimnya di sana para orang tua atau bapak-bapak yang minum sake (minuman beralkohol khas Jepang). Tidak untuk remajanya, apalagi sekarang semakin gencar pemberian wawasan tentang kesehatan.

 

  1. Bertingkah Seolah Mereka Lebih Berharga

Semua wanita tidak suka direndahkan, nyaris seluruhnya mempunyai watak yang keras kepala, egois, mau menang sendiri, dan apapun bentuknya yang salah tetaplah para laki-laki. Tentu ini menjadi ketidaksukaan yang hebat pada wanita-wanita asing, ketika mereka mengetahui bahwa laki-laki Jepang menganggap dirinya dewa dan para wanitalah yang manusia. Betul sekali, di sana kondisi telah terbalik mutlak. Biasanya perempuan yang dikejar, dipuja-puja, diagungkan, tetapi para pria yang lebih tinggi harganya. Sering terlihat pula gadis-gadis yang menyatakan cintanya terlebih dahulu pada cowok yang disukainya, tapi jarang untuk cowok yang menyatakan cinta. Sehingga membentuk sebuah proporsi dimana kaum adam yang lebih mahal. Bahkan, ada sebuah jasa yang menyewakan teman kencan pria.

 

  1. Cenderung Pemurung

Banyak wanita asing yang mengeluh bahwa pria Jepang sering terlihat murung, seolah-olah dunia mau kiamat. Tidak ada wanita yang suka pria seperti itu, wanita lebih menyukai sosok yang humoris dan dapat menghiburnya. Terkadang ketampanan, uang, serta jabatan tidak cukup untuk membangun suasana keluarga yang harmonis, apalagi pria yang sering menjadi sedih secara, tanpa sebab. Itu malah akan membuat mereka pusing sekaligus keheranan. Apa yang sudah terjadi? Bagaimana cara menanganinya? Tidak ada yang tahu. Cowok-cowok Jepang juga tidak suka bercerita tentang hal yang sangat pribadi dalam hidupnya, bahkan untuk orang yang sangat dia cintai.

 

  1. Bicara Amat Pelan

Banyak perempuan di negara lain yang mengeluh bahwa laki-laki mereka tak pernah mendengarkan kata-kata mereka, namun ini adalah kebalikannya. Banyak wanita asing berkata bahwa pria Jepang berbicara terlalu pelan, sehingga meskipun mereka mendengarkan, kita tak akan pernah mendengarkan apa jawaban mereka, apa tanggapan mereka, terhadap hal-hal yang kita tanyakan. Seperti, “Gaun mana yang lebih bagus?”

 

  1. Terlalu Menjaga Gengsi Dan Pemalu

Seorang pelajar putri dari Amerika ikut mengomentari, “Pria-pria Jepang terlalu pemalu. Kebanyakan di antara mereka akan menghindari kontak mata saat tengah mengobrol.” Dan pendapat diamini banyak cewek dari negara lain yang tinggal di Jepang. Selain itu, para cowok Jepang juga banyak yang tidak menyapa terlebih dahulu pada wanita. Ini mencipta kesan ‘jahat’ tersendiri di benak para perempuan asing.

 

  1. Pelit

Murid Korea berusia 19 tahun berkata, “Hal yang paling mengejutkanku itu sewaktu pria Jepang mengajakku makan, tetapi ia berkeras untuk membayar bill-nya secara patungan. Di Korea, biasanya prialah yang membayar. Di waktu lain, pria Jepang yang aku kencani bilang, kita harus patungan untuk membayar biaya di sebuah hotel untuk bercinta. Aku begitu terkejut, lalu segera pulang.”

Sudah menjadi budaya di Jepang ketika makan bersama maka bill yang disodorkan kasir haruslah bayar masing-masing, apa saja yang dimakan orang tersebut maka ialah yang harus membayarnya. Kecuali jika sudah menikah, maka semuanya ditanggung si pria. Itu dikatakan sebagai refleksi bahwa cewek-cewek Jepang bukanlah tipikal yang terlalu mendambakan uang dalam masa pacaran, tetapi tidak untuk jangka serius seperti menikah, mereka lebih mencari pasangan yang mapan untuk dijadikan suami.

 

  1. Tidak Tertarik Dengan Seks

Cap.Ada Bnyk Cowok Jpg yg Tidak Tertarik Pada Seks

Beberapa dari kalian mungkin pernah mendengar istilah ‘Pria Herbivora’. Istilah ini dipakai untuk merujuk kaum pria Jepang yang tidak tertarik dengan seks atau mencari pacar. Seorang wanita Amerika Serikat berusia 22 tahun yang mengikuti survei tersebut, memiliki julukan terbaru untuk mereka yakni “Hyena”. Itu merupakan sebutan khusus bagi pria-pria Jepang yang terobsesi dengan dunia anime hingga mereka akhirnya benar-benar jatuh cinta dengan gadis anime yang imut. Mereka hanya tertarik dengan wanita 2D yang tidak benar-benar hidup, bukan wanita sesungguhnya. Persis dengan seekor Hyena yang memangsa benda mati, dalam kasus ini adalah karakter anime.

 

  1. Terlalu Kurus

Capt. Pria Jpg Terlalu Kurus

Banyak wanita asing yang tidak menyukai pria Jepang yang terlalu kurus. Mereka tidak bisa menerima kenyataan bahwa calon pacar mereka memiliki tubuh yang lebih kurus dari mereka. Terlalu langsing membuat para wanita asing ilfil, itu karena mereka menginginkan pria yang berisi dengan gumpalan otot seksi, bukan kumpulan tulang.

 

  1. Style Hampir Sama Semua
Listless teen boy
Listless teen boy

Seorang cowok yang berpenampilan sama dengan cowok lainnya kerap membuat para perempuan bosan. Banyak perempuan asing berharap memiliki pacar pria Jepang yang berpenampilan unik dan punya gaya sendiri. Namun, banyak di antara laki-laki Jepang tidak suka ribet. Mereka mengenakan kaus dengan corak biasa saja, simpel alias tidak neko-neko, bahkan tidak ada menariknya sama sekali, itu membuat para wanita dari negara lain tidak suka.

Itulah 10 hal buruk yang ada di pikiran cewek asing saat ditanyai pendapatnya soal cowok Jepang. Bagaimana tanggapan dari Minna-san? Apakah ada yang tidak setuju dengan salah satu poin? 🙂

SHARE
Previous articleTACHIKOMA GT, Gitar Listrik Bertema Tachikoma
Next article9 Karakter yang Akan Kamu Temukan di Anime Shoujo
Winata SilenceAngelo merupakan seorang penulis remaja yang lahir pada 3 September 1997 di kota Karawang. Kecintaannya terhadap diksi yang melankolis serta menyentuh mengantarkannya ke dunia kepenulisan. Pada umurnya yang masih sangat muda ini, ia berhasil meraih beberapa penghargaan sastra serta menjadi kontributor dari buku-buku puisi. Menurut Winata, dalam sebuah naskah, entah itu novel, cerpen, esai, puisi, atau sekadar kata-kata, yang terpenting adalah unsur amanat. Seperti ketajaman pada ujung mata pedang, amanat merupakan apa yang menjadi tolak ukur suatu seni. Di sanalah segala dari pemikiran sang penulis bermuara, hingga kemudian menunjukan keindahannya dengan sangat artistik.